Kalau saja kamu jadi aku, belum tentu kamu kuat melewatinya.
Dan kalau saja aku jadi kamu, belum tentu aku kuat menjalankannya.
Kalau saja kamu jadi aku, belum tentu kamu sabar merasakannya.
Dan kalau saja aku jadi kamu, belum tentu aku bisa tahan didalamnya.
Kalau saja kamu jadi aku, belum tentu kamu bisa ikhlas menerimanya.
Dan kalau saja aku jadi kamu, belum tentu juga aku bisa rela melepaskannya.
Bahwasannya, keadilan dalam hidup telah Tuhan atur masing-masing batasnya.
Tak ada yang dilebihkan, tak ada yang dikurangi.
Adil bukanlah sama rata, Adil adalah tepat pada tempatnya.
Pada akhirnya semoga saja ini sudah tepat pada tempatnya,
sehingga tidak perlu ada lebih banyak lagi "kalau saja".
ah, sedih tidak kasat mata, pun bahagia, hati tidak akan ada yang tahu pasti.
- ditulis saat gelap
benar-benar gelap, oleh sebab lampu dikamar putus listriknya.
Selasa, 18 Oktober 2016
Jumat, 14 Oktober 2016
Tiga Bait Sajak pada Tiga Bait Babak
BABAK PERTAMA - Ternyata perjalanan adalah sebuah museum. suara musim hujan dari berabad silam membangunkan sebuah kota dari tidur panjangnya. Aku tersesat lagi di wajah-wajah yang asing - diorama pagi dengan catatan yang tak terbaca jelas.
BABAK KEDUA - Kotak kaca di ruang tengah: tungku yang membakar tubuhku. Tiba-tiba kata menjadi bara - Tiba-tiba kita menjadi tiada - Tidak ada Kalimat - Tidak ada yang selamat.
BABAK KETIGA - Waktu adalah penjara, ia memerangkap segalanya; yang pernah, lengkap dengan semua kemungkinan.
kemudian BABAK KEEMPAT adalah baris kosong. tidak ada sajak. kelak hanya akan kuisi pertanyaan; kau bahagia?
BABAK KEDUA - Kotak kaca di ruang tengah: tungku yang membakar tubuhku. Tiba-tiba kata menjadi bara - Tiba-tiba kita menjadi tiada - Tidak ada Kalimat - Tidak ada yang selamat.
BABAK KETIGA - Waktu adalah penjara, ia memerangkap segalanya; yang pernah, lengkap dengan semua kemungkinan.
kemudian BABAK KEEMPAT adalah baris kosong. tidak ada sajak. kelak hanya akan kuisi pertanyaan; kau bahagia?
Jumat, 16 September 2016
Buka Mulut
ini kamu,
yang pura-pura tidak lihat aku
siluetmu kutangkap jelas, tapi kamu sembunyi
kamu sembunyi, tapi sembunyikan apa?
oh iya, kamu sembunyikan mata
sebab saat ini kamu hanya ingin melihatnya
lalu kepadaku mendadak buta, tuli, bisu
yasudah, jangan lihat aku
atau biar aku bantu, aku pindah ke planet lain kalau kamu mau
hanya sebelumnya, sejelas-jelasnya aku harus tahu
sebab menduga-duga itu serasa menggenggam sembilu
jadi coba jawab dulu..
..benar begitu maumu?
Rabu, 14 September 2016
Sudah kutitipkan padanya
aku tau, hari ini yang menimpamu apa
aku tau kemungkinan reaksimu bagaimana
aku ingin disana
memelukmu kalau bisa
ah, tidak, memelukmu terlalu imaji, diam disampingmu saja
lalu mendengarmu memangil namaku lesu, tak apa, bersedihlah sebentar
tak kularang kamu marah, mengumpatlah! biar, biar terlampiaskan
kemudian aku ingin memuji menyemangati, bahwa kalah bukan tandingan untukmu menyerah
sayang, itu cuma khayal dalam kepala, nyatanya menanyakan keadaanmu saja aku tak tega. hanya ku dapati kabarmu lewat beranda, lewat yang mengenalmu.
tak apa, sudah kutitipkan khawatirku padanya, pada yang kamu cinta. semoga dia ada disana, memelukmu erat, mengelus lebut punggungmu, melakukan yang aku tidak bisa. lalu kuharap kamu tenang oleh sebab ada dia disampingmu. kemudian kamu kuat.
kalau dia tak melakukan bilang padaku, nanti kuganti berkali lipat.
- 14.09.16 jangan lupa makan dulu, siapkan tenaga untuk menghadapi lagi pengujimu.
tak perlu minta aku mendoakan, sebab selalu kulakukan.
Selasa, 13 September 2016
Minggu, 11 September 2016
Bagaimana Kabarmu?
Bagaimana kabarmu?
Sudah gelap disini, senja terkantuk-kantuk pada selimut barat. Pada sebidang tanah yang berujung mendung.
Bagaimana kabarmu?
Pohon-pohon bertudung langit disini, tertanam urat-urat hidupnya pada bumi; pada sebidang gelisah lahan basah.
Bagaimana kabarmu?
Aku sedang merapihkan rindu, melipatnya bersama waktu, dan sibuk meramalkan kapan kita akan bertemu.
kebetulan ditulis sambil sakit gigi
11.09.16
via: http://karyasenja.tumblr.com/page/2
Sudah gelap disini, senja terkantuk-kantuk pada selimut barat. Pada sebidang tanah yang berujung mendung.
Bagaimana kabarmu?
Pohon-pohon bertudung langit disini, tertanam urat-urat hidupnya pada bumi; pada sebidang gelisah lahan basah.
Bagaimana kabarmu?
Aku sedang merapihkan rindu, melipatnya bersama waktu, dan sibuk meramalkan kapan kita akan bertemu.
kebetulan ditulis sambil sakit gigi
11.09.16
via: http://karyasenja.tumblr.com/page/2
Sabtu, 10 September 2016
Sepi
Sepi adalah ramaimu yang mendadak pergi.
Sepi adalah tempat dimana aku tanpamu menepi.
Sepi adalah tujuh hari tanpa langkah kakimu menghampiri.
Sepi adalah melepaskan setiap memori tentangmu di kepala ini.
Sepi adalah gema hati yang memberisikan diri, meronta-ronta agar kau jangan pergi.
Sepi adalah bagian molekul hati yang melepaskan diri mencari pengganti.
Sepi adalah tak ada ponsel berbunyi pertanda kau tak ucapkan selamat pagi di dini hari.
Sepi adalah makanan paling hambar yang pernah aku cicipi.
Sepi adalah ketika dalam harimu aku sudah terganti.
Sepi adalah ia tiba bukan denganku tapi dengan perempuannya.
Sepi adalah aku yang duduk sendiri di teras rumah, tempat aku jatuh hati padamu berkali-kali.
Sepi adalah kepalaku yang menyeretmu dari ingatan masa lalu di tempat-tempat tertentu.
Sepi adalah menyuruh hati ini diam sebab ia merengek rindu.
Sepi adalah sang waktu yang meminta perhatian agar bisa berdua saja dengannya.
Sepi adalah hadiah, sebab kalau musibah pasti berbondong-bondong orang ramai menontoni.
Sepi adalah yang harus dirayakan dengan mewah, supaya hidup tetap terlihat meriah.
-
di bawah pendar senja dan bising keramaian
Bandar lampung, 2016
Sepi adalah tempat dimana aku tanpamu menepi.
Sepi adalah tujuh hari tanpa langkah kakimu menghampiri.
Sepi adalah melepaskan setiap memori tentangmu di kepala ini.
Sepi adalah gema hati yang memberisikan diri, meronta-ronta agar kau jangan pergi.
Sepi adalah bagian molekul hati yang melepaskan diri mencari pengganti.
Sepi adalah tak ada ponsel berbunyi pertanda kau tak ucapkan selamat pagi di dini hari.
Sepi adalah makanan paling hambar yang pernah aku cicipi.
Sepi adalah ketika dalam harimu aku sudah terganti.
Sepi adalah ia tiba bukan denganku tapi dengan perempuannya.
Sepi adalah aku yang duduk sendiri di teras rumah, tempat aku jatuh hati padamu berkali-kali.
Sepi adalah kepalaku yang menyeretmu dari ingatan masa lalu di tempat-tempat tertentu.
Sepi adalah menyuruh hati ini diam sebab ia merengek rindu.
Sepi adalah sang waktu yang meminta perhatian agar bisa berdua saja dengannya.
Sepi adalah hadiah, sebab kalau musibah pasti berbondong-bondong orang ramai menontoni.
Sepi adalah yang harus dirayakan dengan mewah, supaya hidup tetap terlihat meriah.
-
di bawah pendar senja dan bising keramaian
Bandar lampung, 2016
Langganan:
Postingan (Atom)