Jumat, 27 Desember 2024

Underrated series review: Our Secrets

Pertama-tama, Halo!
    Akhirnya menyentuh blog ini lagi setelah enam tahun. /tertawa besar/. Belakangan gw lebih sering menulis di tumblr. Selain karena disana lebih privat, tumblr juga lebih reader/writer-friendly. Tapi karena belakangan gw sedang aktif ambil kelas copy writing dan content writing. Ada rasa sayang kalau ilmunya nggak langsung disempurnakan dengan latihan. Jadi, munculah ide; bagaimana kalau ilmu copy-content writing ini kita pakai untuk menulis review series atau buku. Yang kemudian mendorong gw untuk buka blog ini lagi sambil sedikit rapih-rapih dasbornya. Rasanya seperti, menengok rumah yang sudah lama nggak kita huni. Dengan Ilmu UI/UX seadanya, akhirnya, voila!  Rumah lama ini menjadi layak lagi. Siap dihuni dengan tulisan yang semoga nyaman dibaca kalian semua.

    Series pertama yang akan gw review kali ini datang dari tontonan yang sudah dua kali gw re-watch tahun ini. Berjudul Our Secret atau Secrets of Secret di aplikasi VIU. FYI, Series china ini bisa ditonton legal di VIU Premium ataupun gratis dengan iklan. 



    Series bergenre Coming of Age yang ditulis oleh empat orang penulis sekaligus ini, menurut gw, sangat underrated. Gimana bisa nggak ada yang kasih tau gw kalo ada series romance senyaman ini untuk ditonton?! Series ini rapih banget dari segala lini. Mulai dari plot yang konfliknya realistis dan sangat relatable (terutama untuk orang-orang usia awal 20-an), akting pemainnya yang semuanya natural banget, sampai ke visual sinematik dan visual pemainnya. Akan sedikit gw elaborasi satu-satu untuk lebih detailnya.

    Kenapa gw bilang plot series ini rapih banget? Karena dengan jumlah 24 episode, nontonnya sama sekali nggak ngebosenin, cara peralihan dari scene ke scene itu detail tapi nggak TMI (Too Much Information). Nggak bikin kita /yawn/ alias nguap. Padat, tapi dibuat se-smooth mungkin. Setiap scene-nya penting dalam menonjolkan value apa yang mau disampaikan. Nggak kerasa kaya loncat-loncat. Ditambah lagi, cara sutradara ambil ending scene-nya bener-bener captivating. Bikin penonton pingin selalu nambah episode lagi. Bintang lima untuk sutradaranya!

    Masih soal plot, genre ini termasuk slow burn romance alias kisah cinta yang mekarnya pelan-pelan banget. Bikin penonton meninju udara, kegemesan. Kita dibawa dari kisah mereka baru masuk SMA, naik kelas dua, lalu naik kelas tiga, lanjut ke kehidupan mereka kuliah sampai lulus kuliah. hampir terasa kaya kita diajak menjadi penonton fordik yang ikut mereka sekolah juga. It almost feels like, it is part of our life too.

    Akting pemainnya juga ngga main-main! Jujur awal nonton series ini tuh karena aktor male-lead nya Chen Zheyuan. Selepas series dia— Hidden Love di Netflix yang rame dan pecah banget. Gw penasaran, apakah akting dia emang selalu sebagus itu. Ternyata damn dude, He IS a great actor! Kemampuan dia match kemistri ke female-lead kayaknya emang selalu chemistrying. Nangis. 

    Nah, gokilnya lagi, ngga cuma lead couple-nya aja yang aktingnya natural, even second lead couple-nya pun disajikan dengan kemistri, yang menurut gw, bersaing bagusnya dengan lead couple. Mereka juga punya plot cerita sendiri yang, walau agak cringe, tapi menurut gw common dan masuk akal kalaupun dibawa ke dunia nyata. Pemeran ekstra lainnya pun, kaya— temen-temen waktu sekolah, kuliah, relasi-relasi kerja di seiring episodenya, dikasi peran yang jelas. Nggak sekedar 'ada' atau jadi pelengkap aja. Semuanya punya benang merah ke jalan cerita pemeran utamanya. Sebagai seseorang yang sedang berusaha menjadi penulis cerita fiksi, poin ini tuh menurut gw termasuk yang paling sulit untuk di build-up. Sungkem banget sama penulisnya.



    Selain plot cerita dan akting natural yang bikin series ini gemes dan heart-warming. Visualnya yang sangat terkonsep dengan konsisten juga jadi poin penting yan bikin series ini jadi memorable. Racikan color-gradingnya pas banget, nggak kurang, nggak lebih, PAS! Ngasih atmosphere nostalgia yang bikin hati hangat sekaligus menggelitik. Cara ngambil angle kameranya juga sedikit banyak kerasa kaya angle di anime, lebar dan sinematik. Ngajak penonton untuk nggak hanya fokus ke objek utama, tapi juga situasi surroundings di tempat kejadian. Jadi kaya ngasi tau ke penonton tanpa narasi, begini indahnya loh cara Zhou Siyue (pemeran utama pria) dan Ding Xian (pemeran utama perempuan) mengingat momen-momen kecil (terutama dimasa SMA) yang terkesan sepele itu.

    Terakhir, adalah konsep visual pemeran yang menurut gw juara banget effortnya. Selesai dari kehidupan SMA, mereka mulai masuk ke kehidupan kuliah dimana styling per karakternya mulai lebih bebas. Yang bikin gw salut disini adalah, setiap scene, outfit pemerannya selalu matching! Semua outfit mereka senada dan ngga ada warna yang tumpang tindih, tapi juga nggak kaya panitia (ngerti kan maksud gw?!). In my very opinion, poin ini bener-bener ngasih kesan kalo project ini bener-bener dikonsep dengan matang even sampai ke hal-hal kecilnya. 







Last but not least, sebagai romance-fiction freak, pastilah sehabis nonton nggak lepas dari comparing satu karya ke karya lain yang udah gw tonton. Menurut gw pribadi, series Our Secret ini jauh lebih bagus daripada When I Fly Towards You— yang sangat hyped di Netflix itu. In. Every. Aspect. Tapi kalau dibandingkan dengan Hidden Love, menurut gw, Hidden Love tetap menang dari segi story development. Di Our secret, dari awal sampai akhir, feel yang dikasih adalah dua anak muda yang jatuh cinta. Udah sampai situ aja. Dari segi konflik-solusi juga Hidden Love menang karena lebih mature dan complicated. Namun, nggak membuat Our Secret ini less special sedikitpun. It has super refreshing story, raw emotions of innocent and pure young love in it! Series ini juga lebih aman untuk ditonton sama remaja-remaja under fifteen. Habis nonton ini, rasanya kaya kita baru lulus SMA lagi.

All in all, I wish you got the experience as I had when you watch this series. Also a friendly reminder kalau invest waktu ke nonton atau baca novel lebih punya good impact dibanding scroll sosmed berjam-jam. Semoga review ini sampai ke kalian sebagai bacaan yang nyaman. 


See you in next review!
Ney


Credit to all pictures: Pinterest