Jumat, 27 Desember 2024

Underrated series review: Our Secrets

Pertama-tama, Halo!
    Akhirnya menyentuh blog ini lagi setelah enam tahun. /tertawa besar/. Belakangan gw lebih sering menulis di tumblr. Selain karena disana lebih privat, tumblr juga lebih reader/writer-friendly. Tapi karena belakangan gw sedang aktif ambil kelas copy writing dan content writing. Ada rasa sayang kalau ilmunya nggak langsung disempurnakan dengan latihan. Jadi, munculah ide; bagaimana kalau ilmu copy-content writing ini kita pakai untuk menulis review series atau buku. Yang kemudian mendorong gw untuk buka blog ini lagi sambil sedikit rapih-rapih dasbornya. Rasanya seperti, menengok rumah yang sudah lama nggak kita huni. Dengan Ilmu UI/UX seadanya, akhirnya, voila!  Rumah lama ini menjadi layak lagi. Siap dihuni dengan tulisan yang semoga nyaman dibaca kalian semua.

    Series pertama yang akan gw review kali ini datang dari tontonan yang sudah dua kali gw re-watch tahun ini. Berjudul Our Secret atau Secrets of Secret di aplikasi VIU. FYI, Series china ini bisa ditonton legal di VIU Premium ataupun gratis dengan iklan. 



    Series bergenre Coming of Age yang ditulis oleh empat orang penulis sekaligus ini, menurut gw, sangat underrated. Gimana bisa nggak ada yang kasih tau gw kalo ada series romance senyaman ini untuk ditonton?! Series ini rapih banget dari segala lini. Mulai dari plot yang konfliknya realistis dan sangat relatable (terutama untuk orang-orang usia awal 20-an), akting pemainnya yang semuanya natural banget, sampai ke visual sinematik dan visual pemainnya. Akan sedikit gw elaborasi satu-satu untuk lebih detailnya.

    Kenapa gw bilang plot series ini rapih banget? Karena dengan jumlah 24 episode, nontonnya sama sekali nggak ngebosenin, cara peralihan dari scene ke scene itu detail tapi nggak TMI (Too Much Information). Nggak bikin kita /yawn/ alias nguap. Padat, tapi dibuat se-smooth mungkin. Setiap scene-nya penting dalam menonjolkan value apa yang mau disampaikan. Nggak kerasa kaya loncat-loncat. Ditambah lagi, cara sutradara ambil ending scene-nya bener-bener captivating. Bikin penonton pingin selalu nambah episode lagi. Bintang lima untuk sutradaranya!

    Masih soal plot, genre ini termasuk slow burn romance alias kisah cinta yang mekarnya pelan-pelan banget. Bikin penonton meninju udara, kegemesan. Kita dibawa dari kisah mereka baru masuk SMA, naik kelas dua, lalu naik kelas tiga, lanjut ke kehidupan mereka kuliah sampai lulus kuliah. hampir terasa kaya kita diajak menjadi penonton fordik yang ikut mereka sekolah juga. It almost feels like, it is part of our life too.

    Akting pemainnya juga ngga main-main! Jujur awal nonton series ini tuh karena aktor male-lead nya Chen Zheyuan. Selepas series dia— Hidden Love di Netflix yang rame dan pecah banget. Gw penasaran, apakah akting dia emang selalu sebagus itu. Ternyata damn dude, He IS a great actor! Kemampuan dia match kemistri ke female-lead kayaknya emang selalu chemistrying. Nangis. 

    Nah, gokilnya lagi, ngga cuma lead couple-nya aja yang aktingnya natural, even second lead couple-nya pun disajikan dengan kemistri, yang menurut gw, bersaing bagusnya dengan lead couple. Mereka juga punya plot cerita sendiri yang, walau agak cringe, tapi menurut gw common dan masuk akal kalaupun dibawa ke dunia nyata. Pemeran ekstra lainnya pun, kaya— temen-temen waktu sekolah, kuliah, relasi-relasi kerja di seiring episodenya, dikasi peran yang jelas. Nggak sekedar 'ada' atau jadi pelengkap aja. Semuanya punya benang merah ke jalan cerita pemeran utamanya. Sebagai seseorang yang sedang berusaha menjadi penulis cerita fiksi, poin ini tuh menurut gw termasuk yang paling sulit untuk di build-up. Sungkem banget sama penulisnya.



    Selain plot cerita dan akting natural yang bikin series ini gemes dan heart-warming. Visualnya yang sangat terkonsep dengan konsisten juga jadi poin penting yan bikin series ini jadi memorable. Racikan color-gradingnya pas banget, nggak kurang, nggak lebih, PAS! Ngasih atmosphere nostalgia yang bikin hati hangat sekaligus menggelitik. Cara ngambil angle kameranya juga sedikit banyak kerasa kaya angle di anime, lebar dan sinematik. Ngajak penonton untuk nggak hanya fokus ke objek utama, tapi juga situasi surroundings di tempat kejadian. Jadi kaya ngasi tau ke penonton tanpa narasi, begini indahnya loh cara Zhou Siyue (pemeran utama pria) dan Ding Xian (pemeran utama perempuan) mengingat momen-momen kecil (terutama dimasa SMA) yang terkesan sepele itu.

    Terakhir, adalah konsep visual pemeran yang menurut gw juara banget effortnya. Selesai dari kehidupan SMA, mereka mulai masuk ke kehidupan kuliah dimana styling per karakternya mulai lebih bebas. Yang bikin gw salut disini adalah, setiap scene, outfit pemerannya selalu matching! Semua outfit mereka senada dan ngga ada warna yang tumpang tindih, tapi juga nggak kaya panitia (ngerti kan maksud gw?!). In my very opinion, poin ini bener-bener ngasih kesan kalo project ini bener-bener dikonsep dengan matang even sampai ke hal-hal kecilnya. 







Last but not least, sebagai romance-fiction freak, pastilah sehabis nonton nggak lepas dari comparing satu karya ke karya lain yang udah gw tonton. Menurut gw pribadi, series Our Secret ini jauh lebih bagus daripada When I Fly Towards You— yang sangat hyped di Netflix itu. In. Every. Aspect. Tapi kalau dibandingkan dengan Hidden Love, menurut gw, Hidden Love tetap menang dari segi story development. Di Our secret, dari awal sampai akhir, feel yang dikasih adalah dua anak muda yang jatuh cinta. Udah sampai situ aja. Dari segi konflik-solusi juga Hidden Love menang karena lebih mature dan complicated. Namun, nggak membuat Our Secret ini less special sedikitpun. It has super refreshing story, raw emotions of innocent and pure young love in it! Series ini juga lebih aman untuk ditonton sama remaja-remaja under fifteen. Habis nonton ini, rasanya kaya kita baru lulus SMA lagi.

All in all, I wish you got the experience as I had when you watch this series. Also a friendly reminder kalau invest waktu ke nonton atau baca novel lebih punya good impact dibanding scroll sosmed berjam-jam. Semoga review ini sampai ke kalian sebagai bacaan yang nyaman. 


See you in next review!
Ney


Credit to all pictures: Pinterest


Kamis, 10 Januari 2019

a brief summary of two thousand and eighteen

Saya kira saya masih punya beberapa bulan lagi untuk menghilangkan rasa kaku saat menulis 2018, tapi teryata bumi sudah berputar satu revolusi penuh mengelilingi matahari. Bahkan sekarang saya harus membiasakan diri menulis numerik baru di ujung dijit angka tahun. Sudah tiga ratus enam puluh lima kali saya mengalami  rotasi bumi menukar siang dan malam, tiga ratus enam puluh lima kali menatap papar cahaya senja. Walaupun tidak setiap hari juga menatap senja. Saya bukan serupa penyair penyair yang hobi menyesap kopinya menikmati matahari perlahan habis tenggelam dilahap malam, terlebih lagi, saya bukan pengangguran. pernah ada hari-hari dimana saya setengah sebelas malam baru sampai depan pintu rumah. mana sempat lihat senja.

Dua ribu delapan belas, untuk saya, seperti arus arung jeram. deras, berbatu, banyak curug-curug mulai dari yang dangkal hingga yang terjal dan saya tidak bisa memilih untuk melewatinya atau tidak. tidak ada pilihan. itulah kenapa saya pilih perumpamaan arus arung jeram, bukan berlayar di lautan berombak, atau naik roller coaster, atau yang lainnya. sebab tidak ada kemudi, tidak ada sabuk pengaman, semua berjalan diluar dikendali saya. saya cuma memiliki modal: keberanian yang menjadi dayung dalam perjalanan dan iman yang menjadi pelampung saya. dan mungkin ditambah helm berupa kesabaran yang kelak melindungi kepala saya dari setiap goncangan-goncangan psikologis yang datang.

sebagai mana pengarung jeram, saya menghadapi jeram-jeram di jalur panjang yang akhirnya membawa saya pada hari ini. maka saya pikir tidak ada salahnya untuk berbagi cerita tentang salah satu jeram yang saya arungi di dua ribu delapan belas. semoga diantara kalian tidak ada yang mengalami jeram curam macam yang saya alami ini.


lima belas februari. saya pikir hari itu hanya salah satu hari-hari biasa. saya sudah rapi, sudah menyeduh teh, sebagaimana pagi-pagi saya yang lainnya. saya ingat terakhir saya menengok jam, sudah hampir jam delapan, segera saya ambil tas dan jaket, bersiap berangkat. dijalan sempat teringat di atas meja makan ada teh hangat yang belum sempat saya minum. 

saya menarik gas motor saya tidak lebih cepat dari biasanya, sayangnya tidak sebagaimana hari-hari biasa saya tidak sampai di kantor hari itu. gelap. saya mendengar beberapa orang berteriak, ramai. kemudian saya merasa aneh, saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya bahkan satu gerakanpun. Dalam pikiran, saya merasa panik, saya ingin tahu apa yang terjadi, tapi kenapa begitu gelap dan kenapa tubuh saya tidak mengikuti perintah dari pikiran saya, kemudian perlahan saya merasa lelah, amat lelah. 

lalu tiba-tiba saya merasakan banyak tangan yang menyentuh tubuh saya, mungkin sepasang di kedua
ketiak lengan saya, dua di pergelangan kaki, dan rasanya beberapa di punggung belakang saya. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang teh hangat di meja makan yang saya tinggal tadi. kemudian teringat bahwa saya harus sampai di kantor sebelum setengah sembilan.

kemudian entah bagaimana perlahan saya mendapatkan energi saya kembali. saya terbangun, saya menggerakan tubuh saya. tapi kenapa saya duduk di trotoar jalan? kenapa ramai sekali? saya menangkap beberapa pasang bola mata mengamati saya dengan aneh, belum pernah dalam hidup saya mendapatkan tatapan yang seperti itu.

kemudian saya menyadari ada yang aneh dalam mulut saya. saya bangun menggerakan tubuh saya, meludah ke sebelah kiri. darah kental keluar dari mulut saya, ada potongan daging aneh terasa di dalam mulut saya. barulah saya sadar ternyata jilbab saya sudah penuh darah. pagi itu roda motor saya beradu dengan roda belakan pengendara di depan saya. saya sempat lihat. dua pria bercelana pendek tak berhelm. beat warna merah. roda mereka menyeret roda depan saya ke kanan. saya jatoh ke kiri, dengan dagu mendarat lebih dulu. 

barulah rasa sakit menjalar keseluruh tubuh saya. saya tidak tau apa yang harus dipikirkan saat itu. ada banyak. Ibu, Ayah, kantor, rumah sakit mana saya akan di bawa. ada banyak yang saya ingin tanya dan katakan, tapi tubuh saya bukan milik saya rasanya hari itu. lidah saya robek 2/3 dari lebar keseluruhan, saya tidak tahu seperti apa bentuk wajah saya. saya bisa merasakan daging menjuntai dari dagu saya. terlalu ngilu untuk saya mengingat semuanya.

setelah itu saya hanya berusaha tidak memikirkan apa apa, saya hanya diam dan pasrah sambil memandangi lampu operasi. 3 perawat menangani saya, saya turuti semua perintahnya. kali pertama dalam hidup saya mendapatkan jahitan, saya langsung dapat di empat tempat berbeda. tapi dari semua bagian, yang paling berpengaruh terhadap psikologis saya kemudian adalah lidah.
belum pernah dengar lidah dijahit? sama, saya juga. 

tapi, yang paling berat justru adalah hari-hari setelahnya. betapa tertekannya psikologis saya hari-hari setelah itu. buat saya, itu masa-masa tergelap dan paling menakutkan. benang jahitan yang ditanam untuk menyambung bagian yang robek dalam mulut saya terasa seperti gumpalan kawat tajam tak beraturan yang ditanam didalam lidah. saya tidak bisa makan selama satu minggu kecuali jus buah yang harus di blender halus. cara makannya dengan memasukan sedotan ke mulut bagian samping hingga mencapai ke pangkal tenggorokan. butuh satu bulan untuk saya bisa kembali mencicipi nasi. entah berapa kali saya menangis dalam sehari membayangkan betapa sebelumnya hal kecil yang paling mudah seperti makan dan berbicara menjadi seperti hal yang terasa mustahil sekarang.

saya menangisi ketakutan saya, apa yang akan saya lakukan kalau hidup saya seperti ini selamanya. 

"apa ada oarang yang sebelumnya mengalami ini?"

"kalo nanti ngga bisa ngomong lagi, aku gimana?"

"mau jadi apa? gimana perasaan ibuku?"

pertanyaan-pertanyaan kelam bergema saling sahut satu dengan yang lain. kepala saya serasa diputar, kadang ingin mengumpat, tapi untuk membuka mulut saya saya setengah mati rasanya. tapi yang lebih sedih lagi, ketika kadang saya ingin mengucap istighfar dan berdoa pada Allah, mengadu pada yang maha kuasa tapi tidak bisa. kata-kata dalam pikiran saya terjebak tidak bisa saya keluarkan, membuat batin makin penuh sesak. akhirnya selalu hanya tangis tanpa suara yang membasahi pipi saya.

kalau kamu mau lihat bintang mana yang paling cerah bersinar di langit, datanglah ke ladang atau gurun gelap yang jauh dari lampu-lampu kota dan keramaian. dimasa gelap dalam hidup seperti inilah saya bisa lihat orang-orang yang hatinya memancarkan ketulusan pada saya. hanya setelah jatuh kedalam jeram yang menenggelamkan hampir semua energi positif dan kepercayaan diri yang susah payah saya bangun sepanjang hidup saya, saya kemudian bisa mengerti seperti apa saya disimpan dalam folder memori setiap orang yang saya kenal.

kamu akan terkejut dibuatnya. atau paling tidak seperti itu saya dibuatnya. orang yang kamu yakini selama ini perduli padamu bisa jadi hanya proyeksi ekspektasi dirimu sendiri. karena orang-orang ini tidak pernah menunjukkan diri mereka yang sesungguhnya, jadi kamu menciptakan fantasi seperti yang kamu harapkan. orang yang seperti ini akan datang padamu, menanyakan kabarmu, tapi justru menambah suasana berkabung dihatimu.

rasa kecewa terhadap kenyataan bahwa beberapa orang tidak memberikan dukungan yang seperti saya harapkan sempat membuat saya merasa tenggelam lebih dalam lagi dalam kesedihan. tapi disini jugalah, saya bisa lihat mereka yang benar benar berdiri mendukung saya, tidak hanya melihat luka saya dari perban yang membalut tubuh saya tapi lebih dari itu, mereka melihat luka yang lebih besar di dalam sana. memeluknya dengan hangat, mengeringkannya dengan cahaya ketulusan yang mereka berikan dari hati mereka.

orang-orang ini menumbuhkan rasa syukur dalam hati saya. sesuatu menjadi istimewa dan indah karena terbatas adanya. saya mulai memfokuskan energi saya untuk berhenti mengasihani diri saya sendiri. saya ingin bisa mengubah posisi berbaring atau bangun dari tempat tidur saya tanpa harus memanggil bantuan orang lain. saya ingin dapat mengangkat sendok dan mengunyah makanan kesukaan saya. saya ingin bisa membuka lemari memilih pakaian mana yang ingin saya pakai hari ini dan mengenakannya sendiri. saya ingin ikut menyanyikan lagu-lagu baru ketika diputar di tv atau playlist spotify sambil menggerakkan kedua tangan saya dengan bebas. namun lebih dari itu, saya ingin sembuh dan berterimakasih kepada orang-orang yang telah dengan tulus memberikan dukungan pada momen dimana saya paling membutuhkannya. saya ingin bisa bangun kedapur sendiri, menyeduhkan mereka teh, dan berbincang dengan mereka.

dengan cepat saya belajar bahwa memiliki pilihan adalah sebuah kemewahan dan andilnya besar untuk membuat kita bahagia. tiba-tiba kenangan seperti berbincang di meja makan dengan ayah ibu, atau berdebat dengan adik perempuan saya, tertawa lepas bersama sahabat-sahabat saya menjadi sebuah harta karun bagi saya. saya berjanji akan lebih mensyukuri dan menghargai rutinitas harian saya.

kabar baiknya, proses recovery saya berjalan sesuai perkiraan, bahkan sedikit lebih cepat. sekitar setelah dua minggu pulang pergi terapi, tangan kiri saya akhirnya perlahan mulai bisa digerakkan kembali. perlahan saya bisa sedikit-demi sedikit melakukan kegiatan tanpa orang lain walaupun  memakan waktu lebih dari dua kali lipat dari saat sperti saya normal dulu.


sekarang, sudah hampir setahun dari masa-masa kelam itu, saya sudah pulih walaupun beberapa bagian tidak bisa kembali seratus persen seperti saat saya normal. saya tidak bisa berlari terlalu lama atau lutut kiri saya akan terasa nyeri, saya tidak bisa lagi membuka kemasan dengan menggigit ujung kemasan saset seperti yang selalu saya lakukan dulu. benturan keras di dagu saya waktu itu sedikit merubah posisi rahang saya sehingga membuat gigi saya tidak sejajar sempurna. tapi sangat sedikit, sehingga orang hampir mustahil untuk menyadarinya. tentu saya bisa kembali bicara. hal yang paling melegakan dari selurug proses penyembuhan setahun ini. dan lagi, namun tidak sama seperti saya normal dulu.

benang jaitan saya menyatu dengan lidah, membuat lidah saya terasa lebih tebal. dan saya harus membawanya bersama sisa hidup saya. tapi daripada menyesalinya saya memilih untuk menjadikannya sebagai pengingat, betapa besar pentingnya bersyukur terhadap hal-hal yang bahkan kita pikir 'hanyalah' hal yang wajar. tahap akhir dari perkabungan adalah penerimaan. penerimaan bukan berarti rasa dukamu hilang, melainkan pemahaman dan kesadaran bahwa kamu akan membawa duka itu terus sepanjang hidupmu. dan menjadi bagian dari dirimu dimasa depan bahkan harus membuat kamu bersinar lebih terang dari sebelumnya.

saya yakin ada banyak orang diluar sana yang mengalami hal-hal lebih menyakitkan, melewati ruang-ruang yang jauh lebih gelap. dan saya sangat salut pada kalian yang bisa melewatinya. dan bagi teman-teman yang mungkin saat ini sedang membaca tulisan saya, semoga kalian tidak perlu mengalami apa yang saya alami untuk bisa menjadi orang yang lebih bersyukur.

dari sejak menghadapi jeram-jeram yang ada di tahun dua ribu delapan belas saya (termasuk ini salah satunya) saya berproses menjadi orang yang memiliki pikiran lebih terbuka. saya seperti dipertemukan kembali dengan diri saya delapan tahun lalu, dimana saya masih menjadi anak SMP, belum mengenal dunia dewasa yang kebahagiannya dihitung dengan angka. dan pada tahun itu juga saya memutuskan untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak berkontribusi apapun bagi kebahagiaan saya. melanjutkan dan berfokus pada apa yang saya miliki. dengan luar biasa, saya jadi merasa mengenal diri saya sendiri. dan lebih dari itu, menerima dan menyayangi diri saya sendiri.



dua hari yang lalu saya berdiskusi dengan dua teman dekat saya tentang apa-apa yang belakangan mereka lewati lewat grup whatsapp. kemudian salah satu dari mereka melempar pertanyaan yang membuat saya terfikir untuk membuat tulisan ini,

"lagi adem amat sih lo, ney, kayaknya hidupnya? :')"

karena tidak mungkin saya menjawabnya dengan semua yang saya sudah tulis di blog ini, maka saya putuskan dengan menjawabnya dengan haha hehe. saya tentu saja masih punya masalah, masih mengeluh kalau air yang saya isi untuk mandi dipakai orang dan saya harus menunggu lagi sampai bak penuh. saya tetap dengan emosi me-report/suspend twitter orang-orang yang suka menyebar hatefull tweet terutama tentang idola saya. saya masih insecure terutama kalau sedang bokek. tapi saya hanya memutuskan untuk lebih menikmati hidup saya. bukan karena pencapaian-pencapaian yang telah saya miliki, melainkan karena saya masih bisa memencet tombol starter pada marwan motor saya. memakai kaus kaki yang baru habis dicuci dan membuat telur dadar di hari minggu pagi. nonton national geographic dan cartoon network bersama ayah saya, serta menyaksikan kucing saya menggaruk telinga dengan cakarnya.


apapun yang kamu kerjakan hari ini, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita panjang saya. semoga cerita saya tidak sekedar membuang sia waktumu dan ada hal baik yang bisa merubah cara pandangmu pada hidup. atau paling tidak semoga bisa sedikit menghangatkan harimu. kunjungi lagi saya di lain waktu kalau kamu mau. akan saya bawakan cerita lainnya atau bawakan pada saya ceritamu, saya akan dengan senang hati membacanya..





with love,
ney.

Rabu, 19 September 2018

ruang temu

belakangan, saya jadi orang yang 1000 kali lebih gampang cringe, walaupun memang biasanya tipikal yang terkesan 'anteng'. entah apa yang buat saya jadi lebih sensitif dengan hal begitu. saya yang biasanya punya pikiran melankolis dan (sedikit) lihai mengolah sastra jadi sajak-sajak puitis, sekarang cuma baca twit orang melow dikit langsung refleks ngerutin dahi, geli. saya sendiri juga heran dengan saya yang sekarang lebih pilih baca komik Miiko ketimbang novel-novel Boy Candra atau Fiersa Besari.

buku romansa terakhir yang saya baca milik Brian Khrisna 'The Book of Almost' dan ngga selesai. Tapi kalau yang ini, saya ngga tahu, tidak selesai karena saya cringe bacanya atau memang ngga sanggup menyelesaikannya. Yang satu ini sedikit lain, saya punya kekaguman tersediri dengan Brian Khrisna. dia punya kemampuan membuat tulisannya indah tapi tetap terasa nyata. terutama, buku ini semua isinya tentang pengalaman terluka, cara Brian yang apik meminjamkan panca indra kepada pembacanya membuat saya seolah hidup sebagai Brian dan merasakan luka itu nyata disetiap sajak di sana. dibelakang itu, saya baca buku 'The Book of Almost' juga sehabis 'experience of almost' saya sendiri.

saya jadi lebih rajin baca tulisan Windy Ariestanty yang notabene adalah narasi perjalanan. membuat saya bahagia dan memberikan efek seolah-olah saya ikut berjalan-jalan. jadi punya pikiran lebih luas, yang kemudian membuat saya seolah tidak tertarik lagi dengan dunia sastra. saya benar-benar tidak menyentuh blog, tumblr, atau media tulis saya lainnya yang biasanya tempat mencurahkan sekedar sisi melankolis saya.
sebenarnya, saya masih menulis sesekali, hasrat saya mengeluarkan keresahan-keresahan dengan puisi dan sajak masih disana, walaupun saya merasakan gaya tulisan saya sekarang sedikit berbeda. yang paling berubah, saat ini saya jauh lebih selektif, mana yang sebaiknya di publish mana yang tidak, terlalu selektif malah, yang akhirnya membuat semua yang saya tulis berujung di file draft. seperti itu, terus berulang.

saya mulai masuk pada usia lebih awas terhadap apa yang saya lakukan. lebih memilih hal-hal sederhana dan efisien. begitu pula dalam hal menulis, ketimbang kalimat mengeluh (menye menye kalau kata saya), sekarang lebih memilih menulis dan membaca hal-hal yang bikin saya bahagia dan (lebih bagus) kalau bisa memberikan manfaat. saya jadi banyak memikirkan tentang diri sendiri, apa yang sebenarnya saya ingin gapai, apa yang sudah saya capai selama ini, ternyata selama ini saya belum cukup mengenal diri sendiri.

tapi apa yang membuat saya kehilangan sense menulis?

berbulan-bulan saya mengalaminya. seingat saya, dulu saya (lumayan) terkenal karena sajak-sajak di sosial media hasil postingan saya, tapi sekarang baru menulis kata 'aku' bahu saya sudah bergidik geli. lucu memang, tapi rasanya juga tidak sehat. sedikit banyak saya merasa 'kehilangan' kemampuan. jadi saya mensiasati diri sendiri dengan membaca sajak dan puisi dalam bahasa inggris, favorit saya adalah puisi-puisi milik Lang Leave dan R.H Shin. cukup bekerja, ternyata saya masih cinta dengan seni sastra.

hari ini, setelah selesai membaca buku Gita Savitri ada hal yang menyentil saya. setelah saya ingat-ingat, yang saya lakukan selama ini belum sepenuhnya menulis. saya lebih sering menjadikan tulisan sebagai pelampiasan. saya membiarkan perasaan memonopoli tulisan saya. Naksir dengan si A, sakit hati dengan si B, atau rindu dengan C. hanya ketika saya merasakan hal-hal seperti itu saya kemudian menulis. dalam dunia menulis tentu itu bukan suatu hal yang tidak dibenarkan. ide bisa datang dari mana saja, bukan? toh banyak penulis-penulis yang terkenal dari hasil curhat pengalaman pribadinya. iya, tapi tidak dengan saya.

Penulis yang merdeka adalah penulis yang bisa menulis dalam situasi apapun, persaan seperti apapun, sesibuk apapun.


itu yang dikatakan Gita Savitri dibukunya. saya jadi teringat, J.K Rowling bahkan menulis  beberapa naskah Harry Potter di dalam bathub sambil mandi, Paulo Coelho kebanyakan menyelesaikan bukunya dalam kereta saat perjalanan, Barbara Kingsolver menulis buku pertamanya saat baru pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, dan menyelesaikannya ditengah aktivitas sebagai ibu muda. selama ini saya sama sekali belum menjadi penulis yang merdeka. saya menulis sebagai bentuk teriakan agar orang-orang tahu perasaan saya, atau lebih parah, saya menulis dengan harapan orang yang saya tulis membaca tulisan saya.

dan ketika saya masuk ke usia dimana kewarasan sedikit demi sedikit mengikis ego, saya merasa mulai kehilangan ide karena satu persatu drama yang saya buat sendiri mulai saya tamatkan. itulah penyebabnya.

saya meyakini bahwa saya harus menikmati tahap demi tahap quarter life crisis yang saya alami, tanpa harus merasa kehabisan waktu. toh, hidup ini bukan ajang kompetisi. sejak kecil saya bukan orang yang berambisi dengan predikat juara, disamping karena bawaan introvert saya yang tidak suka menjadi sorotan perhatian, juga saya rasa setiap orang boleh punya cara sendiri untuk memaknai kehidupan.

saya pinjam kata-kata penulis favorit saya: saya ingin menjadikan menulis sebagai sebuah ruang temu. saya percaya ada hal-hal yang datang kepada kita untuk mengingatkan soal nilai-nilai yang kita yakini. saya membuat blog untuk belajar menulis, untuk memperpanjang ingatan saya, juga untuk mengingatkan saya soal kesenangan selagi menulis.

blog adalah ruang temu yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri. saya izinkan yang lain melongok, melihat saya berproses dan bergumul dengan kedirian saya. saya menulis apa yang saya gelisahkan, juga apa yang saya sukai. ini ruang temu yang terbuka. kunjungi saya sewaktu-waktu bila kalian ingin, tanpa ada sisipan, sebagaimana seorang kawan (kurang) akrab datang tanpa saya mencurigai ia sedang melebarkan jaring mlm-nya.

Selasa, 07 Agustus 2018

Kutub Kembar

kita pasti selalu memiliki teman, yang sangking akrabnya sudah seperti dua kutub magnet kembar; tolak menolak


“jar, lo dimana?” suaraku tersenggal. “di warnet, ney. Kenapa?”

Fajar satu-satuya yang mengangkat panggilanku diantara tiga yang lain. 

Malam itu hampir pukul sepuluh, angin di luar Gedung Rumah Sakit lumayan deras. Aku lima belas tahun, Fajar enam belas. Tidak perlu bilang dua kali, Fajar datang dengan motor Supra X kebanggaanya seperti dikejar setan. Rambutnya yang kribo mengembang begitu helm dilepaskan. Menghampiriku yang celingak-celinguk. Isi kepalaku cuma ada ruang ICU.

“Sori ya, jar. Cuma lo yang ngangkat telpon”. Ucapku dengan nada menyesal sungguhan.

“selow si brut- (panggilan akrab kami), kaya sama siapa aja” kau bilang waktu itu.

“bawanya pelan aja, brut” ucapku santai, kali ini aku bohong. Aku tidak ingin fajar dikejar perasaan panik.

“iya, brut” katanya, juga berbohong, Ingin membuatku merasa tenang.

Aku mantap duduk di atas motornya, hanya satu detik kemudian motornya melesat hingga 110km/jam. Tidak ada satupun dari kami yang tidak panik malam itu. Malam itu aku lima belas tahun, Fajar enam belas. Membelah jalan raya, hampir menabrak truk kuning yang parkir di bahu jalan. Menempuh belasan kilometer menuju rumahku hanya untuk menghidupkan lampu dan mengunci pintu gerbang. Kemudian kembali mengantarku ke Rumah Sakit. 

Tidak sampai dua puluh menit, kami sudah sampai lagi di Rumah Sakit. Kami berjalan cepat sambil membawa dua gembolan, yang satu isi pakaian yang satu selimut.

“makasi ya brut!” ucapku lega. 

Setengah sebelas lewat sudah, kusuruh Fajar langsung pulang kerumahnya. Besok harus kutraktir si Fajar di kantin Bi Yuli, ucapku dalam batin. Besoknya, aku tidak mentraktir Fajar. Aku bukan lupa, apalagi berbohong. Aku tidak masuk sekolah.

Malam itu, tepat setelah berbalik badan melambaikan tangan pada Fajar, Ayah sudah menunggu, Raut wajahnya cemas tapi juga seperti orang yang ikhlas

“Nenek sudah ngga ada, mba” rasanya desingan peluru melintas di samping telingaku.

Nyawaku masih tertinggal di atas laju pesat motor Fajar dengan perasaan semangat dan tidak sabar.. karna malam itu kupikir akhirnya aku berhasil mematahkan alasan Ayah untuk pulang dan menginap di rumah sakit menemani nenek yang sejak kemarin malam dipindah ke  ICU setelah tiba-tiba dua hari tidak siuman. Yang pada akhirnya, berkat bantuan Fajar, aku benar menemani nenekku malam itu. Menemani jasadnya untuk terakhir kali.

“Ikhlas, ney. Allah lebih sayang nenek lo” begitu Fajar balas pesanku malam itu.

September 2011. Usiaku lima belas tahun, Fajar enam belas. Aku merasakan Fajar sudah paham memilah mana yang baik untuk dibicarakan mana yang tidak sejak Ia memilih untuk tidak lagi meledekku dengan “cucu nenek, kecup, kecup, kecup” seperti Patrick kalau sedang meledek Spongebob setiap kali aku tidak ikut main dengan teman-teman di hari Minggu, demi menjaga perasaan kawannya.

Tujuh tahun lalu, Saat usiaku baru lima belas tahun, Fajar enam belas. Nalarku mulai belajar bahwa tuhan juga memberikan makhluknya rejeki berupa kawan yang baik.

Hari ini, 7 Agustus 2018, Fajar dua puluh tiga tahun aku dua puluh dua. Dari 18429012 bantuanmu ini yang paling depan di barisan memoriku. masih kau ingat momen ini, jar?

Walaupun sudah lewat satu minggu, tapi, Selamat Ulang Tahun, Jar! Tadinya Aku berniat posting tulisan ini di Instagram tepat hari ulang tahunmu tapi karna rasanya terlalu cringe kalo dilihat banyak orang maka kuurungkan niatku, Haha. Jadilah setelah berhari-hari tertumpuk di dalam folder dokumen bersama draft tulisanku yang lain, kuputuskan untuk kuposting di blog pribadi karna pasti bahkan Kau sendiri pasti tidak baca-kalau tak kuberi tahu- apalagi orang lain.

Semoga segera kau jadi orang sukses, bandari kita semua makan di restoran macam Paciffic Place setiap minggu. Supaya jangan ke tempat Agung terus kalau kumpul, malu dengan Ibunya- makanannya kita yang habiskan. Kuberi kau satu saran supaya kolesterol tinggimu berkurang: jangan marah-marak kalau kita janjian dan kau datang paling duluan, salah kau sendiri, semacam baru kenal tiga minggu. Jangan bosan dulu kau kurepotkan, Belum dapat jodoh aku. Mhahahahaha




XOXO
ney







Sabtu, 09 Desember 2017

1 tahun 4 bulan 7 hari

aku tidak lelah menunggu, tidak lelah berharap
hanya terkadang aku bingsal tidak berada didekatmu
sebab kamu malu-malu -aku kadang terburu-buru
rasanya ku ingin tarik lengan bajumu
bertanya untuk siapa itu, tiap kau tulis sajak manis
aku tidak lelah menunggu, tidak lelah menduga-duga
hanya kadang aku bingsal tidak bisa menggenggam tanganmu
tapi memangnya, kalau dekat aku berani pegang tanganmu?


sekian
tidak panjang-panjang
sebab ditulis dikantor



Rabu, 08 November 2017

NAIVE

I want
live this life as a naive
see everything as a delightfull things
think possitively
to whatever we through or
whoever we met
feel happy to every simple things
even when hard thing comes as it
would break a whole I had, I
just remain that was a bad day
not a bad life
but life
never let me be
or simply, i never let me be
'cause i was.
and it left me an undescribable scar.

Sabtu, 20 Mei 2017

dialog dalam cermin





pada suatu pagi, aku sengaja memilih jalan memutar sebab-entah-kenapa, aku hanya ingin menyapa kawan lama yang dulu aku mengingatnya hanya setinggi pinggangku ketika pertama aku bertemu dengannya. sudah entah kapan aku terakhir melihatnya. kemudian teringat, dulu sekali saat tempatnya masih menjadi tanah kosong, aku dan nenek sering berjalan memutar sekedar menghabiskan waktu menunggu senja tenggelam. 

dulu, jalanan masih sepi, tempatnya juga masih serupa tanah kosong yang penuh dengan semak-semak.
sampai suatu hari, setelah sekian lama aku dan nenek kembali memilih jalan memutar, aku pertama kali melihatnya. tanah kosong bersemak itu sudah disulap menjadi tempat bangunan rapih dan dihiasi taman yang luas. disitu, aku pertamakali melihat tubuh rampingnya, berdiri didekat pagar yang kemudian melambai ramah kearahku. yang kemudian entah mengapa aku merasa semesta bukan tanpa alasan mengirimkannya untuk bertemu denganku.

sekarang sudah bertahun sejak saat itu, dulu aku masih sesekali lewat depan rumahnya sengaja hanya untuk melihatnya, disana ia selalu berdiri tepat di tempat pertama kali kami bertemu. bukan main, setiap aku melihatnya ia selalu lebih tinggi dari sebelelumnya, selalu semakin mempesona. namun sedikitpun dia tak congkak, masih selalu terlihat ramah dan ceria melambai lembut padaku. aku merasa malu sekarang sebab dulu sempat iri padanya. tapi dulu kita hanya anak-anak, begitu mudahnya perasaan iriku luntur oleh sebab senyum dan sapaannya.

hari ini, aku kembali ingin melihatnya, kakiku melangkah sedikit tidak sabar. aku yakin sekali tingginya sekarang sudah dua kali lipat tinggiku atau bahkan lebih. sudah terbayang betapa ia pasti sudah tumbuh jauh lebih mempesona. aku mempercepat lagkahku yang kemudian membawaku pada pagar tembok itu, benar apa perkiraanku! bahkan aku sekarang bisa melihatnya dari pagar samping. aku berlari kecil ke pagar depan rumahnya untuk melihatnya lebih jelas. senyumku melebar saat melihatnya dengan jelas, tapi aku merasa ia seperti tidak mengenaliku. yah.. memang aku 'agak' berubah dari sebelumnya.

tapi sepertinya memang ada yang berbeda dengannya, entah apa yang membuatku merasa ia tak memancarkan pesona seceria saat-saat kami masih belum mengenal malu. kemudian hari itu akulah yang menyapanya lebih dulu, meniru saat-saat dia melambai ramah kepadaku. untungnya ia masih mengenalku, aku memperhatikannya, padahal kini bunga-bunganya jauh lebih banyak dari dulu batangnya yang kokoh dan kuat menopang tubuhnya untuk terus bertumbuh tinggi. tapi tetap aku melihatnya tidak sama seperti yang ada di dalam imajiku. dia sekarang lebih seperti menyimpan malu, bersembunyi dibalik daun-daunnya sendiri.

kemudian setelah itu aku tau. dia bercerita, ia iri pada para Mawar, sebab warnanya yang cerah membuat para kupu-kupu selalu lebih tertarik dengan mereka. lalu ia iri pada para Melati sebab badan mereka mungil tapi mempunyai aroma harum yang kuat sehingga membuat para lebah tak urungnya jatuh cinta. juga pada lily sebab bunganya yang besar, tingginya yang tidak begitu menjulang dan batang mereka yang lembut membuat kumbang lebih memilih terbang didekat mereka. ia mengeluhkan batang kayunya yang keras yang tidak berhenti membuatnya tumbuh tinggi dan bunga-bunganya yang tak memiliki wangi. temanku, sang Kamboja , bersedih oleh sebab ia merasa tak semenarik bunga lainnya. 

aku merasakan kesedihannya, namun aku tak tahu harus menyampaikan apa, jadi aku hanya memberinya senyum dan memuji pesonanya sebagaimana aku merasa ia memang mempesona. kemudian aku berjalan pulang, aku mengambil jalan lurus melewati pagar depan rumahnya, samar-samar aku mendengar suara ribut yang datang dari sekelompok mawar. mereka meributkan betama mereka meresa iri pada temanku sebab mereka merasa angin pilih kasih kepadanya, hanya kepada Kamboja ia menghembuskan belaian lebih kencang karena Kamboja memiliki batang yang tinggi. juga tentang betapa mereka membenci diri mereka sebab memiliki duri dan ujung daun yang tajam.

aku mendengarkan gunjingan mereka, tapi aku memilih untuk tidak ikut campur. aku masih berjalan melewati pagar depan. kemudian aku tak jauh, mendengar Asoka sedang mengeluh, berharap mereka terlahir sebagai Teratai karena memiliki batang yang kuat walaupun hidup mengapung diatas air. mereka mengeluhkan batang-batang bunga mereka yang rapuh dan rontok ketika terkena tetesan hujan. aku memandangi Asoka yang kulihat tak berkurang kecantikannya walau beberapa bunga dari setiap gerombol-gerombolya ada yang rontok.

aku mulai tergelitik, ada yang harus diluruskan disini. semua bunga mengeluhkan bagaimana mereka merasa tidak lebih menarik dari bunga lainnya. sementara satu sama lain saling merasa iri karena merasa kekurangan.

 "aku harus menyampaikan ini pada Kamboja!" seru hatiku saat itu

kemudian aku berlari memutar arah kembali ke rumah Kamboja, yang tiba-tiba sebatang kaktus besar menyapaku. menanyaiku apa yang membuatku begitu terburu-buru. sebelum kuceritakan kuperhatikan  dia, daunnya yang tebal dan gundul, tak kulihat ada bunga satupun ditubuhnya. lalu dengan setengah sadar aku langsung menanyakan apakah ia tidak ingin menjadi bunga lain, yang setidaknya, lebih cantik. kemudian ia tertawa,

"untuk apa? agar para kupu-kupu dan lebah mendekatiku?" malah bertanya balik padaku

"aku tidak perlu memikat yang tidak tertarik padaku, aku cukup menunggu, aku yakin bungaku akan mekar pada saatnya dan saat itu akan ada kumbang yang datang padaku" jelasnya dengan yakin dan tenang

kemudian aku ceritakan tengtang bagaimana bunga-bunga saling merasa iri yang padahal mereka adalah masing-masing dengan pesonanya sendiri, dan tentang niatku untuk meyakinkan Kamboja, temanku, agar terlepas dari perasaan tidak memiliki pesona lagi. kemudian dengan mengejutkan Kaktus kembali tertawa, tapi yang lebih mengejutkan adalah ucapannya..

"memang kau pikir temanmu akan percaya?" tanyanya sarkas

aku menaikkan alisku heran 

"bukannya kalian manusia para wanita juga persis sama?"

sejak saat itu aku tidak pernah lagi bisa berbicara dengan temanku, serta bunga-bunga lainnya. mungkin saat ini, merekalah yang menjadi saksi betapa wanita mengeluhkan hal yang sama.

Senin, 01 Mei 2017

Catatan November Kemarin

oh, hai!

lama tidak menggerakkan jemari di kolom entri blog ini. sebelum tulisan ini, sebenarnya ada beberapa tulisan yang aku buat. tapi belakangan ini memutuskan mana tulisan yang harus di publis mana yang disimpan menjadi persoalan yang perlu dipertimbangkan rasanya. jadilah mereka hanya terismpan di barisan draft. tapi yang ini aku rasa tidak masalah, hanya akan ada beberapa cerita yang ingin aku ceritakan.

tulisan yang aku tulis terakhir adalah tentang bagaimana aku menghabiskan malam minggu yang sepi damai disebuah tempat makan bersama si hijau kesayanganku. pada akhir paragraf aku menuliskan harapan..

"semoga selanjutnya bukan dengan si hijau aku menghabiskan malam minggu...."

dan itu sungguh terjadi.
aku benar-benar tidak pernah lagi menghabiskan malam minggu dengan si hijau. bukan hanya malam minggu, malam senin, malam selasa, semua malam. bahkan siang haripun. Si hijau hilang.
hilang, benar-benar hilang secara harfiah. benar-benar singkat. takkan kuceritakan secara detail, buat apa mengungkit yang sudah hilang. aku berusaha ikhlas.

sempat terlintas pemikiran kekanakan:

bahkan si hijau pun malas menghabiskan malam minggu bersamaku, dan memilih pergi..

ya namanya juga orang berduka, yang tidak masuk akal saja kadang bisa dia percaya. aku hanya masih terluka. ah, padahal tadinya bukan ingin menulis tulisan cengeng begini.
yasudah, mungkin sudah selesai misi si hijau untung menolong dan menemaniku, mungkin dia pulang ke pelanetnya berkumpul dengan keluarganya. akan aku buat pemikiran seperti itu.

kemudian, setelah kepergian si hijau. banyak kerepotan-kerepotan yang harus aku hadapi sebab tidak ada partner yang memediai semua pekerjaan. pinjam sana pinjam sini. dari belum lagi kita harus sabar menunggu yang mau kita pinjami dengan sabar, menunggu pekerjaannya selesai dulu baru kita bisa pakai. yah.. namanya juga pinjam.

dari kejadian ini aku jadi punya pemikiran, mungkin kemarin aku kurang bersyukur. bukan kemarin-kemarin aku tidak senang punya si Hijau, hanya kadang terlintas ingin yang baru. perihal tidak bersyukur, manusia memang selalu seperti itu bukan? ah aku yakin aku bukan satu-satunya manusia yang merasa menyesal setelah kehilangan.

aku jadi teringat 4 skenario yang pernah kubaca di blog seseorang sebelum ini, ada 'sesuatu' yang ingin kubagi tentang skenario ini, sebab, sungguh, sudah kurasakan sendiri..


Skenario 1

andaikan kita sedang naik kereta ekonomi. kita tidak kebagian tempat duduk dan akhirnya kita berdiri di gerbong tersebut. suasana cukup ramai meskipun masih ada ruang untuk kita menggoyang-goyangkan kaki. kita tidak menyadari handphone kita terjatuh. ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya pada kita.
"pak, handphone bapak barusan jatuh", kata orang tersebut seraya mengembalikan handphone kepada kita. apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terimakasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2

handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihat dan memungutnya. orang itu tahu handphone itu milik kita tapi tidak langsung mengembalikannya.hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang. sesaat sebelum turun dari kereta, orang itu mengembalikan handphone kita sambil berkata, 
"pak, handphone bapak tadi jatuh", apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? mungkin kita akan mengucapkan terimakasih juga kepada orang tersebut. rasa terimakasih kita bisa jadi lebih besar daripada yang kita berikan kepada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone kepada kita). setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

pada skenario ini, kita tidak sadar handphonekita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak lagi ada di dalam kantong saat turun dari kereta. kitapun panik dan segera menelpon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita. orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak langsung mengembalikan handphone tersebut) menjawab telpon kita.
"halo, selamat siang pak. saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang", kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati memberikan handphone itu kembali kepada kita. orang yang menemukan handphone tadi berkata,
"oh, ini handphone bapak? oke nanti saya akan turun di stasiun berikut. biar bapak ambil disanan nanti ya.".
dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan kitapun pergi ke stasiun berikut dan menemui "orang baik"  tersebut. orang itupun mengembalikan handphone kita yang telah hilang. apa yang kita lakukan kepada orang tersebut? satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terimakasih dan sepertinya akan lebih besar daripada rasa terimakasih kita pada skenario dua, bukan? bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4

kali ini, kita tidak tersadar kalau handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari handphone kita telah hilang, kita mencoba menelpon tapi tidak ada yang mengangkat. sampai akhirnya kita tiba di rumah. malam harinya kita mencoba mengirimkan pesan,:
"Bapak/Ibu yang budiman, saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak/ibu sekarang. saya sangat mengharapkan kebaikan bapak/ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya."
pesanpun dikirim dan tidak ada balasan. kita sudah putus asa. kita mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di handphone itu. ada banyak kontak teman kita yang ikut hilang bersamanya. hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab pesan kita, dan mengajak bertemu untuk mengembalikan handphone kita. Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut? kita pasti akan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga daripada yang kita berikan di skenario tiga).


ada hal "aneh" disini. coba pikirkan, siapakah orang yang paling paling baik di antara empat skenario tersebut? tentunya yang menemukan dan langsung memberikan handphone kita, bukan? dia adalah orang pada skenario pertama. namun ironisnya, dialah yang menerima reward paling sedikit diantara empat orang di atas. sementara orang yang paling lama mengembalikan handphone itu kepada kita malah kita berikan reward paling besar. kenapa? sudah kubilang, perkara manusia..

"merasa memiliki, saat kita telah kehilangan"


rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario. pun pada skenario perihal perasan. ada kala kita mengabaikan yang kita miliki, merasa dia akan kembali lagi sebab seperti itulah 'seharusnya' menurut kita. kemudian dia menghilang dan sedikit lebih jauh, namun masih bisa kita gapai, kita belum melakukan apa-apa, lebih jauh, lebih jauh lagi hingga sebelum sempat kita sadari dia jarak sudah terlalu jauh memisahkan. beberapa orang, akan menyangkal bahwa ia merasa kehilangan. namun BUKAN berarti di tidak merasakannya. kehilagan, adalah masa yang berada tepat ketika kita mulai merasa terbiasa tanpa perasaan bersyukur. kehilangan selalu datang bersama keresahan dan harapan untuk mendapatkannya kembali, yang barulah mengajari kita artinya menghargai. sebab beberapa dari kita baru merasa memiliki, saat setelah kehilangan.



ditulis November 2016



catatan: baru dipublish setelah lama menjadi draft dan diedit ulang. tulisan yang sedikit cengeng tapi, hey, senang bisa kembali menulis.

- N :)

Sabtu, 22 Oktober 2016

Sekedar Bercerita

pertama-tama kalian harus tau ini ditulis di tempat publik sambil mendengarkan lagu Bimbang milik Melly Goeslaw. pada malam minggu yang sempat bingung harus dihabiskan dimana seusai meeting mengenai proyek baru yang akhirnya dipercayakan padaku. kemudian hanya aku, si hijau (begitu aku memanggil laptopku) yang aku sambungkan earphone ke telingaku, juga teh hijau yang aku pesan 20 menit yang lalu, hanya itu, karna donat gratis yang aku dapatkan dari event promosi sudah aku habiskan tepat setelah aku memilih tempat duduk. yang selanjutnya adalah pikiran-pikiran menyeruak dikepalaku. banyak. ada rindu juga disitu, ah, tapi  aku sedang malas membahas rindu. biar saja dulu lah. 

pelayan berlalu lalang, aku perhatikan satu dari tadi. kami hanya dibatasi dinding kaca, sedang asyik mengadon adonan roti. jarak kami tak sampai 10 meter. tapi kami ada di dua tempat yang sangat berbeda. dari tempatku duduk aku tak dapat mendengar apapun dari tempatnya. pun mungkin Ia. topi kokinya menjulang ke atas, celemeknya ada bekas noda di sudut-sudutnya, tangannya tak berhenti bergerak memutar, maju, mundur, sesekali Ia membanting adonan itu lalu mengulangnya seperti selama hidupnya ia hanya melakukan itu. aku penasaran, apa yang Ia pikirkan hingga begitu terlihat menikmati apa yang dilakukannya.

lalu terlintas dipikiranku; mungkin saja menjadi pengadon roti bukan cita-citanya.
mugkin saja. Ia masih muda, mungkin hanya 5-7 tahun diatas usiaku. belum sampai 30 sepertinya. mungkin saja dia lulusan Universitas Negeri jurusan teknik, tangannya cukup kekar, bukan tidak mungkin. atau bisa jadi ia lulusan jurusan hukum, fisip, atau mungkin ekonomi, kulitnya bersih, aku bisa membayangkan Ia memakai celana jeans dan kemeja, akan pas sekali di badannya.

"mba bisa dicabut dulu nggak?"

tanya seorang laki-laki tiba-tiba dari gerombolan yang duduk disebelahku, menunjuk ke arah charger laptopku.

"yah, ngga bisa mas, ini ngga ada baterai nya."

ucapku dengan nada seperti menyesal, padahal tidak. lalu laki-laki itu duduk kembali setelah meng-oh-kan jawabanku. sepertinya anak kuliahan, sedang berkumpul dengan teman-temannya. berisik sekali. aku dengar beberapa dari mereka berdebat mengenai aplikasi apa yang paling bagus untuk mengedit video. lalu mengenai teman mereka yang sedang liburan ke luar kota dan mendaki gunung-gunung, yang kemudian aku tak tertarik lagi mendengarkannya, mengingatkanku akan sesuatu.

lagu Melly goeslaw sudah lewat diganti beberapa lagu, sekarang lagu Cinta dan Rahasia yang dicover seseorang dengan versi Accoustic. mataku kembali lagi pada Sang pengadon Roti, sekarang Ia sedang mencetak adonannya membentuk bulatan-bulatan menyerupai donat.  3 loyang penuh sudah menumpuk di sebelahnya. aku nyaris terkesima. gesit sekali pekerjaannya.

masih, Ia bekerja di ruangan itu seperti sudah ditakdirkan untuk mendapatkan pekerjaan itu. sementara bisa saja, ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik (diusianya). Ia masih muda, tapi dipilihnya bekerja dibalik celemek dengan topi kokinya, sementara bisa saja ia pergi berkumpul dengan teman-temannya seperti yang dilakukan rombongan berisik yang ada di sebelahku.

kemudian aku teringat cerita yang tadi siang diceritakan senior dikantorku. usianya jauh diatasku sudah 34 atau 35 kalau tidak salah. sudah memiliki istri dan satu anak perempuan. Ia lulusan pertanian sama sepertiku. Ia pernah bekerja di satu perusahaan industri Internasional tingkat dunia, perusahaan dengan lambang satu induk burung dan dua anaknya disangkar. kalian carilah sendiri. kemudian entah karena alasan apa, tiba-tiba ia dipecat tepat sebulan sebelum pernikahannya. belakangan Ia baru mengetahui bahwa perusahaan itu memang tidak menerima lulusan dari Lampung. alasannya? masing-masing punya asumsi sendiri, pun kami berdua yang terlanjur memandang negatif karena kami adalah masyarakat Lampung. Seniorku bercerita betapa ia hampir gila saat itu. lalu dengan segala konspirasi semesta yang kadang tak sampai nalar manusia, kami dipertemukan di bidang yang jauh dari jurusan kami. hidup kadang selucu itu.

kemudian mataku kembali mencari Sang pengadon roti, aku memperhatikannya sedang memasukan loyang ke oven yang besarnya seperti lemari. sekarang aku memandangnya berbeda; mungkin memang, memang bukan menjadi pengadon roti cita-citanya. tapi tak sekalipun aku tak melihat ia tak menikmati pekerjaannya. kemudian aku melihat piring kosongku, donat yang aku makan tadi mungkin buatannya. lalu pandanganku meluas, aku melihat pengunjung lain duduk dan menikmati kudapan mereka. mereka menikmatinya. 

mungkin ketika kita dewasa, bukan lagi cita-cita yang berusaha kita capai, tapi kesempatan. dulu sekali, aku, mungkin kalian juga, pernah berpikir sukses adalah jalan yang mampu kita selesaikan dengan arah yang lurus. tapi kemudian seiring usia definisi sukses tidak se-imaji itu. segala sesuatu berusaha kita sederhanakan ketika kita mulai mengenal realita. melakukan apa yang kita cintai bukan hal yang sulit, tapi mencintai apa yang kita lakukan, butuh proses yang kadang diluar nalar manusia. biar saja, namanya juga manusia, nalar mereka berbatas. yang mengetahui kita adalah kita sendiri. betapa hidup selalu begitu lucu dengan berbagai kejutannya. apalagi yang bisa kita lakukan selain mencintai hidup kita sendiri. karena kesempatan hanya akan kita sadari keberadaannya ketika kita memiliki 'peraasaan cinta' pada apa yang kita jalani.

kudapati Sang pengadon roti sedang melipat celemeknya, sepertinya sift nya sudah selesai, lalu kuperhatikan lebih seksama Ia memakai kacamata. sungguh, siapa yang akan menyangka Ia seorang pengadon roti dengan penampilan seperti itu. lalu dari pintu samping Ia keluar dan melewatiku menuju pintu keluar. aku memperhatikan. Ia sesekali melihat jam ditanganya, mungkin sudah ada yang menunggu. Ia keluar menaiki motor matic yang tak lama kemudian ia gas pergi menghilang. 

pikiranku kembali meluas ke sekitar, kebanyakan keluarga atau orang-orang dewasa dengan penampilan rapih, ini tempat makan kelas menengah atas, tak heran isinya adalah orang-orang yang membayar mahal untuk secangkir kopi sekedar untuk berkumpul atau asyik dengan gadget mereka masing-masing. sungguh mana aku tahu pekerjaan mereka. tapi aku berani bertaruh. pasti tidak semua orang disini adalah orang-orang yang berhasil mencapai cita-cita mereka. namun mereka orang-orang yang telah mampu menangkap kesempatan-kesempatan dalam hidupnya karena mereka mencintai atau paling tidak berusaha mencintai apa yang mereka kerjakan.

9:13 malam, giliranku untuk pulang, 

"udah jam 9 mba, pulang"

kubaca pesan Watsapp yang dikirim ibuku. aku langsung bersiap-siap, aku belum mandi dari sejak pagi. lalu begitulah kuhabiskan malam mingguku bersama si hijau dan kursi kosong di hadapanku. besok-besok aku harap bukan dengan si hijau aku akan membahas berbagai macam konspirasi semesta pada malam minggu.




Selasa, 18 Oktober 2016

Kalau Saja

Kalau saja kamu jadi aku, belum tentu kamu kuat melewatinya.
Dan kalau saja aku jadi kamu, belum tentu aku kuat menjalankannya.

Kalau saja kamu jadi aku, belum tentu kamu sabar merasakannya.
Dan kalau saja aku jadi kamu, belum tentu aku bisa tahan didalamnya.

Kalau saja kamu jadi aku, belum tentu kamu bisa ikhlas menerimanya.
Dan kalau saja aku jadi kamu, belum tentu juga aku bisa rela melepaskannya.

Bahwasannya, keadilan dalam hidup telah Tuhan atur masing-masing batasnya.
Tak ada yang dilebihkan, tak ada yang dikurangi.
Adil bukanlah sama rata, Adil adalah tepat pada tempatnya.

Pada akhirnya semoga saja ini sudah tepat pada tempatnya,
sehingga tidak perlu ada lebih banyak lagi "kalau saja".
ah, sedih tidak kasat mata, pun bahagia, hati tidak akan ada yang tahu pasti.





-   ditulis saat gelap
    benar-benar gelap, oleh sebab lampu dikamar putus listriknya.




Jumat, 14 Oktober 2016

Tiga Bait Sajak pada Tiga Bait Babak

BABAK PERTAMA - Ternyata perjalanan adalah sebuah museum. suara musim hujan dari berabad silam membangunkan sebuah kota dari tidur panjangnya. Aku tersesat lagi di wajah-wajah yang asing - diorama pagi dengan catatan yang tak terbaca jelas.

BABAK KEDUA - Kotak kaca di ruang tengah: tungku yang membakar tubuhku. Tiba-tiba kata menjadi bara - Tiba-tiba kita menjadi tiada - Tidak ada Kalimat - Tidak ada yang selamat.

BABAK KETIGA - Waktu adalah penjara, ia memerangkap segalanya; yang pernah, lengkap dengan semua kemungkinan.

kemudian BABAK KEEMPAT adalah baris kosong. tidak ada sajak. kelak hanya akan kuisi pertanyaan; kau bahagia?







Jumat, 16 September 2016

Buka Mulut


ini kamu,

yang pura-pura tidak lihat aku

siluetmu kutangkap jelas, tapi kamu sembunyi

kamu sembunyi, tapi sembunyikan apa?

oh iya, kamu sembunyikan mata

sebab saat ini kamu hanya ingin melihatnya

lalu kepadaku mendadak buta, tuli, bisu

yasudah, jangan lihat aku

atau biar aku bantu, aku pindah ke planet lain kalau kamu mau

hanya sebelumnya, sejelas-jelasnya aku harus tahu

sebab menduga-duga itu serasa menggenggam sembilu

jadi coba jawab dulu..

..benar begitu maumu?




Rabu, 14 September 2016

Sudah kutitipkan padanya

aku tau, hari ini yang menimpamu apa

aku tau kemungkinan reaksimu bagaimana

aku ingin disana

memelukmu kalau bisa

ah, tidak, memelukmu terlalu imaji, diam disampingmu saja 

lalu mendengarmu memangil namaku lesu, tak apa, bersedihlah sebentar

tak kularang kamu marah, mengumpatlah! biar, biar terlampiaskan

kemudian aku ingin memuji menyemangati, bahwa kalah bukan tandingan untukmu menyerah


sayang, itu cuma khayal dalam kepala, nyatanya menanyakan keadaanmu saja aku tak tega. hanya ku dapati kabarmu lewat beranda, lewat yang mengenalmu.

tak apa, sudah kutitipkan khawatirku padanya, pada yang kamu cinta. semoga dia ada disana, memelukmu erat, mengelus lebut punggungmu, melakukan yang aku tidak bisa. lalu kuharap kamu tenang oleh sebab ada dia disampingmu. kemudian kamu kuat.
kalau dia tak melakukan bilang padaku, nanti kuganti berkali lipat.




                 -  14.09.16 jangan lupa makan dulu, siapkan tenaga untuk menghadapi lagi pengujimu.
                     tak perlu minta aku mendoakan, sebab selalu kulakukan.



Minggu, 11 September 2016

Bagaimana Kabarmu?

Bagaimana kabarmu?
Sudah gelap disini, senja terkantuk-kantuk pada selimut barat. Pada sebidang tanah yang berujung mendung.

Bagaimana kabarmu?
Pohon-pohon bertudung langit disini, tertanam urat-urat hidupnya pada bumi; pada sebidang gelisah lahan basah.

Bagaimana kabarmu?
Aku sedang merapihkan rindu, melipatnya bersama waktu, dan sibuk meramalkan kapan kita akan bertemu.



kebetulan ditulis sambil sakit gigi
11.09.16





via: http://karyasenja.tumblr.com/page/2

Sabtu, 10 September 2016

Sepi

Sepi adalah ramaimu yang mendadak pergi.

Sepi adalah tempat dimana aku tanpamu menepi.

Sepi adalah tujuh hari tanpa langkah kakimu menghampiri.


Sepi adalah melepaskan setiap memori tentangmu di kepala ini.


Sepi adalah gema hati yang memberisikan diri, meronta-ronta agar kau jangan pergi.


Sepi adalah bagian molekul hati yang melepaskan diri mencari pengganti.


Sepi adalah tak ada ponsel berbunyi pertanda kau tak ucapkan selamat pagi di dini hari.


Sepi adalah makanan paling hambar yang pernah aku cicipi.


Sepi adalah ketika dalam harimu aku sudah terganti.


Sepi adalah ia tiba bukan denganku tapi dengan perempuannya.

Sepi adalah aku yang duduk sendiri di teras rumah, tempat aku jatuh hati padamu berkali-kali.


Sepi adalah kepalaku yang menyeretmu dari ingatan masa lalu di tempat-tempat tertentu.


Sepi adalah menyuruh hati ini diam sebab ia merengek rindu.


Sepi adalah sang waktu yang meminta perhatian agar bisa berdua saja dengannya.

Sepi adalah hadiah, sebab kalau musibah pasti berbondong-bondong orang ramai menontoni.


Sepi adalah yang harus dirayakan dengan mewah, supaya hidup tetap terlihat meriah.


-

di bawah pendar senja dan bising keramaian
Bandar lampung, 2016




Kamis, 07 Januari 2016

KITA, Dua yang Seperti Apa?

Kita hanya dua yang menerka-nerka; apa kita memiliki rasa yang sama? Atau bahkan kita ini apa? Memiliki tidak, merasa kehilangan iya.
Kita ini hanya sebatas ingin, yang tidak pernah benar-benar saling mewujudkan.
Kita hanya dua yang masih menduga; cinta sudah hadir di antara kita atau hanya kagum semata.
Kita adalah dua yang ingin memiliki, tapi terlalu mentuhankan gengsi. Hingga untuk mengucapkan cinta sunguh susah sekali. 
Atau barangkali kita dua yang diam-diam mendamba; kau untukku saja, aku untukmu sukarela. 
Atau kita ini adalah sepasang bodoh, yang dengan sombong mengaku tanguh, tapi nyatanya kita kalah dan dengan sukarela memutuskan pisah.
Bahkan berpisah sebelum semua jelas mengikat, ah kita memang benar-benar sepasang dungu; terjerat pilu kehilangan yang membisu. 
Atau kita ini adalah sepasang yang sok pintar, yang seolah sudah saling memiliki padahal kata saling cinta saja belum kita dengar.
Juga dua yang berlagak paling benar, menakar rasa satu dan lainnya seolah perasaan kita adalah sama. Sementara pasti belum kita sepakati.
Sementara bisa saja kita hanya sepasang yang sedang saling penasaran, tidak benar-benar saling tertarik apa lagi ingin saling terikat.
Juga bisa jadi kita adalah dua yang saling menimang; mencipta nyaman di antara kita, niat berteman tak ada lebihnya. 
Bisa saja kita hanyalah sepasang bosan, yang sedang mencari pelarian, dan tidak benar-benar saling menginginkan.
Bagaimana dengan dua kesepian yang sedang mencari keramaian di setangkup perhatian-perhatian dan kekhawatiran-khawatiran? Bisa saja bukan?
Bisa saja kita hanya si sialan, yang hanya ingin mempermainkan, lalu meninggalkan tanpa beban.
Kau terlalu kejam, kurasa.
Di balik semua definisi kita, satu yang selalu kusemogakan; kita dua yang saling mencari dan menemukan, dua yang diperuntukkan.
Aku tidak kejam, hanya saja aku takut tengelam pada semua harapan yang bisa membuat patah hati dengan dalam.
Ketakutanmu beralasan, selama masih ada teori ‘di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan.’ Tetapi, untuk kita beda cerita, aku ingin selamanya saja.
Selamanya apa masih ada, sedangkan rasa cinta antara kita saja belum tentu ada.
Kucinta kau.
Kini sudah ada.
Bagaimana denganmu? Kuharap jawaban serupa
Jangan buru-buru, yang terlalu suka menipu, pun soal cintamu itu, bisa saja itu palsu.
Persetan dengan terburu-buru ataupun terlalu cepat. Padamu, aku mulai terjatuh. Izinkan kurengkuh kasihmu, Kekasih.
Padamu aku juga ingin jatuh, tapi aku hanya akan memberikan hatiku separuh, apa kau masih mau?
Tak mengapa kini separuh, barangkali sore nanti bisa kudapat seluruh.

***

selamat siang, tuan. jangan lupa makan, kau butuh tenaga untuk menghadapi dosen pembimbingmu.
Salam, Nona kumis tipis.





via: http://aksarannyta.tumblr.com/

Senin, 06 Juli 2015

Back and stay.

uhhmm.. i dont even know how to start..
but i guess this word wont stop resound in my mind..
HELLO! im back
writing.

life is getting bored you know. and i am getting older. what to do? what will be? wich one to choose? what to decide? that questions turning my head and sometime make me sick. this collage things like wont let me live a life peacely.

but oh, dont take it seriously. i just said it for myself. however, that is a price i should pay to a better life, isn't it?

came upon two days ago when i was lying low lazily in my bad and connect my laptop to internet. i was stalking someone's profile on twitter and find an interesting conversation with link ask.fm/blablabla. with no doubt i click that link and scrolling down and down the screen and read their conversation. and oh, i think i miss my ask.fm account. so i swiftly type my username in a search column. and hey, i found an account with a cute vintage flower backround. that's mine.

"hey there old account" my heart yelling. i re-read all my answer of questions on my profile. hey that's tickled me so much. how come i be so THAT cool. lol. the way i response all question was so... calm. i did it. and next this corious feeling come. "re-actived my account sounds fun" my heart wishpered. so i click the log in button and type my username and, wait.. i forget my password! this dramatical trouble come ruin my nostalgic thought. "okay, calm down" i keep think and remember what is it the password. i've tried for many times but that red crappy line reads: 'incorrect username or password' nonetheless appear. i curse myself. and give up. bye!

but no. i myself can't understand how could i am so exited about this one. i try it in the next morning. try all word that possible to. and finaly i got the right one! "oh thanks god, i'm so exited now". i open my profile, ohh. it's been 11 month since the last time i answering question. and i got 87 questions on my notification. WOW.
i read it one by one. smiling, thinking how to answer. scroling down and down.. and one question catch my attention.

apakah kamu fans anizabella?

i thinking for a while. i never tell anybody about anizabella. to anyone or any social media. and come on, who cares? i dont think that anyone could that detail. unless she/he is read my old entry on my blog. where i was told about my idols. in other words this Mr or Miss Anonimous is my blogwalker. i wondering who is this person.

i answer the question. and it flashbacking my memories. reason why i made an ask.fm account, reason why i start writing, and who told me what 'share' mean realy is. yep, it's anizabella. and i relize our relationship is getting distant. all i know she was bussy with her collage thing in Brisbane. and she have a relationship with a famaous indonesian stand up comedian. wich mean, she would rather talk and dating with her boyfriend than write her thought in an old social media. like blog(?). and last i know she protect her instagram accout. so the only one media i can stalk is her twitter. just like first time i know her. she rarely tweeting something, but she change her avatar periodecally. and it's enough to sign that she is okay.

and guess what? tonight i found she is tweeting something about wordpress. and know what? she has changed her domain from blogspot to wordpress. and recently posting her very new entry!!! ohh i can feel this butterfly in my stomach! she titled it as The Buzz. and i amazed, as always. she clearly know how to describe my feeling and answer my anxiety.

in this entry i want to say thanks to Anizabella Lesmana whether she read or not.
thanks for back writing, thanks for always giving me confidence to share my thought.
keep writing, please and thank you.




love, N.
xx

Minggu, 12 April 2015

Kita Semua Jatuh Cinta Dengan Alien

"Yang cewe bete nungguin cowo nggak peka-peka.
Yang cowo bingung nungguin cewe ngga ngomong-ngomong.
gitu aja terus sampe ladang gandum dihujani meteor coklat
dan jadilah Coco Crunch" -


Pasti pernah dengar quote itu.
dan ya! itu 90% terjadi di dunia nyata.

Ketika masih anak-anak komunikasi adalah hal yang mudah. Saat anak-anak ita mampu mengerti begitu banyak hal baru, dan kita menyukainya. dimana kita mendapatkan hal-hal baru dengan pemahaman yang begitu mudah. Dimana kita merasa puas ketika orang lain mengerti apa yang berusaha kita sampaikan. Anak-anak adalah komunikator yang handal.

Mereka hanya perlu mengatakan apa yang sebenarnya. Tanpa harus memikirkan kemungkinan selanjutnya. Tanpa harus memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari apa yang kita katakan. Tanpa harus memperdulikan pandangan orang lain dan harga diri. Begitu mudah untuk memahami satu sama lain.

Tapi akan berubah ketika kita tumbuh dewasa. Pelajaran, pemahaman, kehidupan, semua akan seemakin sulit dimengerti. Termasuk dalam berkomunikasi. Maka kutipan di atas bukanlah hal tabu. Hal tersebut pasti akan kita alami ketika tumbuh dewasa.

Alasan mengapa ketika dewasa Pria dan Wanita sering bertengkar adalah...
Karena mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Mungkin ini yang dimaksud John Grey mengapa Wanita berasal dari Venus dan Pria berasal dari Mars. Bukan bentuk tubuh atau asal tempat tinggal yang jadi pokok permasalahannya, tapi adalah bahasa yang mereka gunakan.

semakin kita dewasa akan semakin rumit pemahaman komunikasinya. Mereka akan berkomunikasi dengan bahasa asal planet masing-masing. semakin dewasa, akan semakin terlihat bahwa Wanita memang dari venus dan Pria memang dari mars. Tapi sesulit apapun, Pria dan Wanita akan selalu saling jatuh cinta. hidup kadang selucu itu.

Maka untuk mendewasakan cara berkomunikasi, kita harus menangkap setiap kata, setiap ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang lawan bicara kita buat.
Karena ketika kita dewasa. Kita akan jatuh cinta dengan alien.



xx
ney.

Sabtu, 11 April 2015

Jatuh dan Cinta

bab 1: Halo! Pria Risa


Tadi aku berpapasan dengan Laki-laki pemilik mata sayu. Kemeja bergaris horizontal berwarna ungu muda yang lembut. begitu cocok dengan kulit hitam manisnya. Lengan kemejanya digulung sampai siku. membuat urat menonjol dan lengan berototnya sempurna terpamerkan.
Aku menyapanya, dia balas menyapaku. Bergurau singkat, lantas pergi. Aku masih memandangi punggungnya hingga mengecil dan menghilang.

-dulu betapa jantungku akan berdebar, keringat akan mengucur di dahiku, lututku terasa mengeritin. Lemas, seperti akan jatuh terduduk lalu meloncat bahagia. Pria yang selalu mampu membuatku takjub.

Sayang itu satu tahun yang lalu.

ya, dulu kami pernah saling mencintai, atau setidaknya begitu menurutku. Canda tawa kami selalu membuat iri. Sapaan selamat pagi menjadi tujuan menjalani hari. Betapa hari-hari yang bahagia, setidaknya begitu menurutku.

sampai hari menyakitkan itu datang.

datang bagai benang yang menggontai ganjil. Begitu aku tarik ujungnya, benang itu sempurna melilitku. Semakin aku meronta, semalin kencang menyesakkan dada.
Priaku -pria pemilik mata sayu. Aku melihatnya sedang bercengkrama dengan seseorang yang aku ketahui sebagai mantan kekasihnya. Hatiku bagai disayat perlahan. Sayatan yang panjang.

Hari itu aku terluka. Tidak Dalam. Hanya amat menyakitkan.
Tapi aku jauh dari kata menyerah. Aku bahkan tidak marah, hanya satu - dua titik air mata. Aku memilih membisu, membuta, menuli, membekap luka. Aku memaafkan. tidak satu helaan nafaspun aku keluarkan dari mulut tentang kejadian itu. Kami kembali saling mencintai, kembali menjalani hari-hari bahagia. setidaknya begitu menurutku.

Seolah belum cukup, kejadian itu melintas lagi di depan mataku. Kali ini dengan pernak pernik yang membuat lebih dalam lukaku. Aku menemukan potongan cerita yang Priaku sembunyikan dengan rapih. Priaku dan -seseorang yang aku ketahui sebagai mantan kekasihnya- kudengar merajut kembali ksah cinta mereka sejak 3 bulan terakhir. dan aku mengetahui ini ketika usia hubungan kami menginjak bulan ke dua.
sungguh, seketika seperti desingan peluru baru saja melintas di samping telingaku. Kali ini aku tak kuasa menahan. Air mataku membuncah, dadaku sesak. Tiba-tiba dunia menggelap. Hitam. Benar-benar patah hati terhebat

***

Sekarang aku disini, dihari aku berpapasan dengan Pria pemilik mata sayu. Dengan kemeja bergaris yang dikenakannya. Tentusaja, itu Priaku. Dulu.
Bukannya kesengajaanku berpapasan dengannya. Ayolah, itu sudah satu tahun yang lalu. Aku sunggug ada janji dengan seseorang. Belakangan aku akrab dengan salah satu teman sepermainannya. Yang belakangan juga aku tau mereka asalah teman akrab sejak awal menginjak kampus ini.

Pria yang Ramah. Kami akrab lewat hobi kami yang (kebetulan) sama. Membaca buku. Selera humornya yang tinggi membuat kami cepat akrab. Dan hari ini dia ingin aku meminjamkan salah satu koleksi novel favoritku. Maka aku datang ke tempat mereka biasa berkumpul. Jadi wajar saja kalau aku berpapasan dengan Pria pemilik mata sayu.

"baru kelar kuliah gua, Ris!" Pria ramah itu tiba-tiba saja muncul dari -entah darimana-.

"oh, iya. Ini nih buku yang kemaren gua omongin". aku menjawab sekenanya.

"oke sip. Abis ini ada buku selanjutnya, kan? katanya menyeringai jahil.

aku membalas jahil "ada. tenang aja. ntar akhir bulan tinggal itung aja total sewanya." kami lantas tertawa.

Tak lma suara deruman motor memecah tawa kami. Itu Pria pemilik mata sayu, dan hey, aku mnangkap siluet seorang wanita di jok belakangnya. Entahlah, mungkin pacar barunya. Aku lantas menyapa manis -sedikit menggoda- sambil memberikan sesimpul senyum. Pria ramah menatapku sedikit canggung. Tentusaja, dia tau semuanya. Mereka teman dekat. Sudah sepantasnya mereka berbagi cerita, termasuk kejadian satu tahun yang lalu. Tentang patah hati terhebatku.

Tapi Lihatlah! sekarang aku sunggu baik-baik saja. Bahkan setelah melihat Priaku dulu sudah menemukan wanita barunya. Aku tak seujung kuku-pun terluka. Betapa aku bangga, aku sudah mampu berdamai dengan masa lalu.

"Ada buku baru tau, Ris! Judulnya from zero to hero. Gua liat di twitter si kayaknya bagus." Suara bersemangat itu tiba-tiba memecah lamunanku. Jelas sekali, Pria ramah berusaha mencairkan suasana.

"ya tah? beli geh!!" aku berseru.

"biar lo bisa pinjem? pinteeeerrr..." aku mengangkat bahu, menyeringai.

"yauda ntar awal bulan gua beli biar kita bisa baca." katanya kali ini lebih serius.

aku meliriknya, "awas kalo boong. yauda sekarang baca yang ini aja dulu. jangan lama-lama! bacanya urutan! jangan nganclong-nganclong biar daper sensasinya." kali ini dia tertawa lebih riang, seperti anak kecil sedang senang.

"iya-iya. gua tau kok peraturan baca novel." katanya sok tahu.

air mukanya belum berubah, masih terlihat ekspresi senang di wajahnya. aku menatapnya lamat-lamat. Ada garis-garis melengkung di sudut kelopak matanya saat tersenyum. Kumis tipisnya menyenangkan sekali untuk dilihat, dan oh, dia punya dua lesung pipi yang cukup dalam. matanya juga teduh. Wajah yang menyenangkan.

satu... dua... tiga... Tiba-tiba akua sadar ada yag mendobrak-dobrak sedari tadi. Semakin aku abaikan semakin menjadi-jadi. Semakin kuat, semakin cepat. rasanya seperti akan menembus dadaku. Detaknya terasa sampai ke ubun-ubun. Belum selesai aku menduga-duga, aku menangkap sepasang bola mata yang melihat kearahku.

"sial! tatapan itu!" desisku dalam hati.

"Gua bawa dulu ya, Ris?" katanya tersenyum manis.

"Iya, selow aja..." kataku sok santai sambil menepuk-nepuk pundaknya

... lantas ia pergi.

Lututku Keriting! Sendiku kaku! Belum lagi detak yang semakin cepat membuat udara sekitar menjadi panas. Padahal dari tadi angin kencang pertanda akan hujan berkali-kali berhembus. Konyol! Apa-apaan ini! aku menyumpahi diriku sendiri.

Baru saja aku berdamai dengan masa lau tentang Pria sayu dan patah hati terhebatku.
Sekarang aku jatuh cinta pada sahabatnya?!



Bersambung...