BABAK PERTAMA - Ternyata perjalanan adalah sebuah museum. suara musim hujan dari berabad silam membangunkan sebuah kota dari tidur panjangnya. Aku tersesat lagi di wajah-wajah yang asing - diorama pagi dengan catatan yang tak terbaca jelas.
BABAK KEDUA - Kotak kaca di ruang tengah: tungku yang membakar tubuhku. Tiba-tiba kata menjadi bara - Tiba-tiba kita menjadi tiada - Tidak ada Kalimat - Tidak ada yang selamat.
BABAK KETIGA - Waktu adalah penjara, ia memerangkap segalanya; yang pernah, lengkap dengan semua kemungkinan.
kemudian BABAK KEEMPAT adalah baris kosong. tidak ada sajak. kelak hanya akan kuisi pertanyaan; kau bahagia?
Jumat, 14 Oktober 2016
Jumat, 16 September 2016
Buka Mulut
ini kamu,
yang pura-pura tidak lihat aku
siluetmu kutangkap jelas, tapi kamu sembunyi
kamu sembunyi, tapi sembunyikan apa?
oh iya, kamu sembunyikan mata
sebab saat ini kamu hanya ingin melihatnya
lalu kepadaku mendadak buta, tuli, bisu
yasudah, jangan lihat aku
atau biar aku bantu, aku pindah ke planet lain kalau kamu mau
hanya sebelumnya, sejelas-jelasnya aku harus tahu
sebab menduga-duga itu serasa menggenggam sembilu
jadi coba jawab dulu..
..benar begitu maumu?
Rabu, 14 September 2016
Sudah kutitipkan padanya
aku tau, hari ini yang menimpamu apa
aku tau kemungkinan reaksimu bagaimana
aku ingin disana
memelukmu kalau bisa
ah, tidak, memelukmu terlalu imaji, diam disampingmu saja
lalu mendengarmu memangil namaku lesu, tak apa, bersedihlah sebentar
tak kularang kamu marah, mengumpatlah! biar, biar terlampiaskan
kemudian aku ingin memuji menyemangati, bahwa kalah bukan tandingan untukmu menyerah
sayang, itu cuma khayal dalam kepala, nyatanya menanyakan keadaanmu saja aku tak tega. hanya ku dapati kabarmu lewat beranda, lewat yang mengenalmu.
tak apa, sudah kutitipkan khawatirku padanya, pada yang kamu cinta. semoga dia ada disana, memelukmu erat, mengelus lebut punggungmu, melakukan yang aku tidak bisa. lalu kuharap kamu tenang oleh sebab ada dia disampingmu. kemudian kamu kuat.
kalau dia tak melakukan bilang padaku, nanti kuganti berkali lipat.
- 14.09.16 jangan lupa makan dulu, siapkan tenaga untuk menghadapi lagi pengujimu.
tak perlu minta aku mendoakan, sebab selalu kulakukan.
Selasa, 13 September 2016
Minggu, 11 September 2016
Bagaimana Kabarmu?
Bagaimana kabarmu?
Sudah gelap disini, senja terkantuk-kantuk pada selimut barat. Pada sebidang tanah yang berujung mendung.
Bagaimana kabarmu?
Pohon-pohon bertudung langit disini, tertanam urat-urat hidupnya pada bumi; pada sebidang gelisah lahan basah.
Bagaimana kabarmu?
Aku sedang merapihkan rindu, melipatnya bersama waktu, dan sibuk meramalkan kapan kita akan bertemu.
kebetulan ditulis sambil sakit gigi
11.09.16
via: http://karyasenja.tumblr.com/page/2
Sudah gelap disini, senja terkantuk-kantuk pada selimut barat. Pada sebidang tanah yang berujung mendung.
Bagaimana kabarmu?
Pohon-pohon bertudung langit disini, tertanam urat-urat hidupnya pada bumi; pada sebidang gelisah lahan basah.
Bagaimana kabarmu?
Aku sedang merapihkan rindu, melipatnya bersama waktu, dan sibuk meramalkan kapan kita akan bertemu.
kebetulan ditulis sambil sakit gigi
11.09.16
via: http://karyasenja.tumblr.com/page/2
Sabtu, 10 September 2016
Sepi
Sepi adalah ramaimu yang mendadak pergi.
Sepi adalah tempat dimana aku tanpamu menepi.
Sepi adalah tujuh hari tanpa langkah kakimu menghampiri.
Sepi adalah melepaskan setiap memori tentangmu di kepala ini.
Sepi adalah gema hati yang memberisikan diri, meronta-ronta agar kau jangan pergi.
Sepi adalah bagian molekul hati yang melepaskan diri mencari pengganti.
Sepi adalah tak ada ponsel berbunyi pertanda kau tak ucapkan selamat pagi di dini hari.
Sepi adalah makanan paling hambar yang pernah aku cicipi.
Sepi adalah ketika dalam harimu aku sudah terganti.
Sepi adalah ia tiba bukan denganku tapi dengan perempuannya.
Sepi adalah aku yang duduk sendiri di teras rumah, tempat aku jatuh hati padamu berkali-kali.
Sepi adalah kepalaku yang menyeretmu dari ingatan masa lalu di tempat-tempat tertentu.
Sepi adalah menyuruh hati ini diam sebab ia merengek rindu.
Sepi adalah sang waktu yang meminta perhatian agar bisa berdua saja dengannya.
Sepi adalah hadiah, sebab kalau musibah pasti berbondong-bondong orang ramai menontoni.
Sepi adalah yang harus dirayakan dengan mewah, supaya hidup tetap terlihat meriah.
-
di bawah pendar senja dan bising keramaian
Bandar lampung, 2016
Sepi adalah tempat dimana aku tanpamu menepi.
Sepi adalah tujuh hari tanpa langkah kakimu menghampiri.
Sepi adalah melepaskan setiap memori tentangmu di kepala ini.
Sepi adalah gema hati yang memberisikan diri, meronta-ronta agar kau jangan pergi.
Sepi adalah bagian molekul hati yang melepaskan diri mencari pengganti.
Sepi adalah tak ada ponsel berbunyi pertanda kau tak ucapkan selamat pagi di dini hari.
Sepi adalah makanan paling hambar yang pernah aku cicipi.
Sepi adalah ketika dalam harimu aku sudah terganti.
Sepi adalah ia tiba bukan denganku tapi dengan perempuannya.
Sepi adalah aku yang duduk sendiri di teras rumah, tempat aku jatuh hati padamu berkali-kali.
Sepi adalah kepalaku yang menyeretmu dari ingatan masa lalu di tempat-tempat tertentu.
Sepi adalah menyuruh hati ini diam sebab ia merengek rindu.
Sepi adalah sang waktu yang meminta perhatian agar bisa berdua saja dengannya.
Sepi adalah hadiah, sebab kalau musibah pasti berbondong-bondong orang ramai menontoni.
Sepi adalah yang harus dirayakan dengan mewah, supaya hidup tetap terlihat meriah.
-
di bawah pendar senja dan bising keramaian
Bandar lampung, 2016
Kamis, 07 Januari 2016
KITA, Dua yang Seperti Apa?
Kita hanya dua yang menerka-nerka; apa kita memiliki rasa yang sama? Atau bahkan kita ini apa? Memiliki tidak, merasa kehilangan iya.
Di balik semua definisi kita, satu yang selalu kusemogakan; kita dua yang saling mencari dan menemukan, dua yang diperuntukkan.
Kini sudah ada.
Bagaimana denganmu? Kuharap jawaban serupa
***
Kita ini hanya sebatas ingin, yang tidak pernah benar-benar saling mewujudkan.Kita hanya dua yang masih menduga; cinta sudah hadir di antara kita atau hanya kagum semata.
Kita adalah dua yang ingin memiliki, tapi terlalu mentuhankan gengsi. Hingga untuk mengucapkan cinta sunguh susah sekali.
Atau barangkali kita dua yang diam-diam mendamba; kau untukku saja, aku untukmu sukarela.
Atau kita ini adalah sepasang bodoh, yang dengan sombong mengaku tanguh, tapi nyatanya kita kalah dan dengan sukarela memutuskan pisah.
Bahkan berpisah sebelum semua jelas mengikat, ah kita memang benar-benar sepasang dungu; terjerat pilu kehilangan yang membisu.
Atau kita ini adalah sepasang yang sok pintar, yang seolah sudah saling memiliki padahal kata saling cinta saja belum kita dengar.
Juga dua yang berlagak paling benar, menakar rasa satu dan lainnya seolah perasaan kita adalah sama. Sementara pasti belum kita sepakati.
Sementara bisa saja kita hanya sepasang yang sedang saling penasaran, tidak benar-benar saling tertarik apa lagi ingin saling terikat.
Juga bisa jadi kita adalah dua yang saling menimang; mencipta nyaman di antara kita, niat berteman tak ada lebihnya.
Bisa saja kita hanyalah sepasang bosan, yang sedang mencari pelarian, dan tidak benar-benar saling menginginkan.Bagaimana dengan dua kesepian yang sedang mencari keramaian di setangkup perhatian-perhatian dan kekhawatiran-khawatiran? Bisa saja bukan?
Bisa saja kita hanya si sialan, yang hanya ingin mempermainkan, lalu meninggalkan tanpa beban.Kau terlalu kejam, kurasa.
Di balik semua definisi kita, satu yang selalu kusemogakan; kita dua yang saling mencari dan menemukan, dua yang diperuntukkan.
Aku tidak kejam, hanya saja aku takut tengelam pada semua harapan yang bisa membuat patah hati dengan dalam.Ketakutanmu beralasan, selama masih ada teori ‘di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan.’ Tetapi, untuk kita beda cerita, aku ingin selamanya saja.
Selamanya apa masih ada, sedangkan rasa cinta antara kita saja belum tentu ada.Kucinta kau.
Kini sudah ada.
Bagaimana denganmu? Kuharap jawaban serupa
Jangan buru-buru, yang terlalu suka menipu, pun soal cintamu itu, bisa saja itu palsu.Persetan dengan terburu-buru ataupun terlalu cepat. Padamu, aku mulai terjatuh. Izinkan kurengkuh kasihmu, Kekasih.
Padamu aku juga ingin jatuh, tapi aku hanya akan memberikan hatiku separuh, apa kau masih mau?Tak mengapa kini separuh, barangkali sore nanti bisa kudapat seluruh.
***
selamat siang, tuan. jangan lupa makan, kau butuh tenaga untuk menghadapi dosen pembimbingmu.
Salam, Nona kumis tipis.
via: http://aksarannyta.tumblr.com/
Langganan:
Postingan (Atom)