Rabu, 19 September 2018

ruang temu

belakangan, saya jadi orang yang 1000 kali lebih gampang cringe, walaupun memang biasanya tipikal yang terkesan 'anteng'. entah apa yang buat saya jadi lebih sensitif dengan hal begitu. saya yang biasanya punya pikiran melankolis dan (sedikit) lihai mengolah sastra jadi sajak-sajak puitis, sekarang cuma baca twit orang melow dikit langsung refleks ngerutin dahi, geli. saya sendiri juga heran dengan saya yang sekarang lebih pilih baca komik Miiko ketimbang novel-novel Boy Candra atau Fiersa Besari.

buku romansa terakhir yang saya baca milik Brian Khrisna 'The Book of Almost' dan ngga selesai. Tapi kalau yang ini, saya ngga tahu, tidak selesai karena saya cringe bacanya atau memang ngga sanggup menyelesaikannya. Yang satu ini sedikit lain, saya punya kekaguman tersediri dengan Brian Khrisna. dia punya kemampuan membuat tulisannya indah tapi tetap terasa nyata. terutama, buku ini semua isinya tentang pengalaman terluka, cara Brian yang apik meminjamkan panca indra kepada pembacanya membuat saya seolah hidup sebagai Brian dan merasakan luka itu nyata disetiap sajak di sana. dibelakang itu, saya baca buku 'The Book of Almost' juga sehabis 'experience of almost' saya sendiri.

saya jadi lebih rajin baca tulisan Windy Ariestanty yang notabene adalah narasi perjalanan. membuat saya bahagia dan memberikan efek seolah-olah saya ikut berjalan-jalan. jadi punya pikiran lebih luas, yang kemudian membuat saya seolah tidak tertarik lagi dengan dunia sastra. saya benar-benar tidak menyentuh blog, tumblr, atau media tulis saya lainnya yang biasanya tempat mencurahkan sekedar sisi melankolis saya.
sebenarnya, saya masih menulis sesekali, hasrat saya mengeluarkan keresahan-keresahan dengan puisi dan sajak masih disana, walaupun saya merasakan gaya tulisan saya sekarang sedikit berbeda. yang paling berubah, saat ini saya jauh lebih selektif, mana yang sebaiknya di publish mana yang tidak, terlalu selektif malah, yang akhirnya membuat semua yang saya tulis berujung di file draft. seperti itu, terus berulang.

saya mulai masuk pada usia lebih awas terhadap apa yang saya lakukan. lebih memilih hal-hal sederhana dan efisien. begitu pula dalam hal menulis, ketimbang kalimat mengeluh (menye menye kalau kata saya), sekarang lebih memilih menulis dan membaca hal-hal yang bikin saya bahagia dan (lebih bagus) kalau bisa memberikan manfaat. saya jadi banyak memikirkan tentang diri sendiri, apa yang sebenarnya saya ingin gapai, apa yang sudah saya capai selama ini, ternyata selama ini saya belum cukup mengenal diri sendiri.

tapi apa yang membuat saya kehilangan sense menulis?

berbulan-bulan saya mengalaminya. seingat saya, dulu saya (lumayan) terkenal karena sajak-sajak di sosial media hasil postingan saya, tapi sekarang baru menulis kata 'aku' bahu saya sudah bergidik geli. lucu memang, tapi rasanya juga tidak sehat. sedikit banyak saya merasa 'kehilangan' kemampuan. jadi saya mensiasati diri sendiri dengan membaca sajak dan puisi dalam bahasa inggris, favorit saya adalah puisi-puisi milik Lang Leave dan R.H Shin. cukup bekerja, ternyata saya masih cinta dengan seni sastra.

hari ini, setelah selesai membaca buku Gita Savitri ada hal yang menyentil saya. setelah saya ingat-ingat, yang saya lakukan selama ini belum sepenuhnya menulis. saya lebih sering menjadikan tulisan sebagai pelampiasan. saya membiarkan perasaan memonopoli tulisan saya. Naksir dengan si A, sakit hati dengan si B, atau rindu dengan C. hanya ketika saya merasakan hal-hal seperti itu saya kemudian menulis. dalam dunia menulis tentu itu bukan suatu hal yang tidak dibenarkan. ide bisa datang dari mana saja, bukan? toh banyak penulis-penulis yang terkenal dari hasil curhat pengalaman pribadinya. iya, tapi tidak dengan saya.

Penulis yang merdeka adalah penulis yang bisa menulis dalam situasi apapun, persaan seperti apapun, sesibuk apapun.


itu yang dikatakan Gita Savitri dibukunya. saya jadi teringat, J.K Rowling bahkan menulis  beberapa naskah Harry Potter di dalam bathub sambil mandi, Paulo Coelho kebanyakan menyelesaikan bukunya dalam kereta saat perjalanan, Barbara Kingsolver menulis buku pertamanya saat baru pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, dan menyelesaikannya ditengah aktivitas sebagai ibu muda. selama ini saya sama sekali belum menjadi penulis yang merdeka. saya menulis sebagai bentuk teriakan agar orang-orang tahu perasaan saya, atau lebih parah, saya menulis dengan harapan orang yang saya tulis membaca tulisan saya.

dan ketika saya masuk ke usia dimana kewarasan sedikit demi sedikit mengikis ego, saya merasa mulai kehilangan ide karena satu persatu drama yang saya buat sendiri mulai saya tamatkan. itulah penyebabnya.

saya meyakini bahwa saya harus menikmati tahap demi tahap quarter life crisis yang saya alami, tanpa harus merasa kehabisan waktu. toh, hidup ini bukan ajang kompetisi. sejak kecil saya bukan orang yang berambisi dengan predikat juara, disamping karena bawaan introvert saya yang tidak suka menjadi sorotan perhatian, juga saya rasa setiap orang boleh punya cara sendiri untuk memaknai kehidupan.

saya pinjam kata-kata penulis favorit saya: saya ingin menjadikan menulis sebagai sebuah ruang temu. saya percaya ada hal-hal yang datang kepada kita untuk mengingatkan soal nilai-nilai yang kita yakini. saya membuat blog untuk belajar menulis, untuk memperpanjang ingatan saya, juga untuk mengingatkan saya soal kesenangan selagi menulis.

blog adalah ruang temu yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri. saya izinkan yang lain melongok, melihat saya berproses dan bergumul dengan kedirian saya. saya menulis apa yang saya gelisahkan, juga apa yang saya sukai. ini ruang temu yang terbuka. kunjungi saya sewaktu-waktu bila kalian ingin, tanpa ada sisipan, sebagaimana seorang kawan (kurang) akrab datang tanpa saya mencurigai ia sedang melebarkan jaring mlm-nya.

Selasa, 07 Agustus 2018

Kutub Kembar

kita pasti selalu memiliki teman, yang sangking akrabnya sudah seperti dua kutub magnet kembar; tolak menolak


“jar, lo dimana?” suaraku tersenggal. “di warnet, ney. Kenapa?”

Fajar satu-satuya yang mengangkat panggilanku diantara tiga yang lain. 

Malam itu hampir pukul sepuluh, angin di luar Gedung Rumah Sakit lumayan deras. Aku lima belas tahun, Fajar enam belas. Tidak perlu bilang dua kali, Fajar datang dengan motor Supra X kebanggaanya seperti dikejar setan. Rambutnya yang kribo mengembang begitu helm dilepaskan. Menghampiriku yang celingak-celinguk. Isi kepalaku cuma ada ruang ICU.

“Sori ya, jar. Cuma lo yang ngangkat telpon”. Ucapku dengan nada menyesal sungguhan.

“selow si brut- (panggilan akrab kami), kaya sama siapa aja” kau bilang waktu itu.

“bawanya pelan aja, brut” ucapku santai, kali ini aku bohong. Aku tidak ingin fajar dikejar perasaan panik.

“iya, brut” katanya, juga berbohong, Ingin membuatku merasa tenang.

Aku mantap duduk di atas motornya, hanya satu detik kemudian motornya melesat hingga 110km/jam. Tidak ada satupun dari kami yang tidak panik malam itu. Malam itu aku lima belas tahun, Fajar enam belas. Membelah jalan raya, hampir menabrak truk kuning yang parkir di bahu jalan. Menempuh belasan kilometer menuju rumahku hanya untuk menghidupkan lampu dan mengunci pintu gerbang. Kemudian kembali mengantarku ke Rumah Sakit. 

Tidak sampai dua puluh menit, kami sudah sampai lagi di Rumah Sakit. Kami berjalan cepat sambil membawa dua gembolan, yang satu isi pakaian yang satu selimut.

“makasi ya brut!” ucapku lega. 

Setengah sebelas lewat sudah, kusuruh Fajar langsung pulang kerumahnya. Besok harus kutraktir si Fajar di kantin Bi Yuli, ucapku dalam batin. Besoknya, aku tidak mentraktir Fajar. Aku bukan lupa, apalagi berbohong. Aku tidak masuk sekolah.

Malam itu, tepat setelah berbalik badan melambaikan tangan pada Fajar, Ayah sudah menunggu, Raut wajahnya cemas tapi juga seperti orang yang ikhlas

“Nenek sudah ngga ada, mba” rasanya desingan peluru melintas di samping telingaku.

Nyawaku masih tertinggal di atas laju pesat motor Fajar dengan perasaan semangat dan tidak sabar.. karna malam itu kupikir akhirnya aku berhasil mematahkan alasan Ayah untuk pulang dan menginap di rumah sakit menemani nenek yang sejak kemarin malam dipindah ke  ICU setelah tiba-tiba dua hari tidak siuman. Yang pada akhirnya, berkat bantuan Fajar, aku benar menemani nenekku malam itu. Menemani jasadnya untuk terakhir kali.

“Ikhlas, ney. Allah lebih sayang nenek lo” begitu Fajar balas pesanku malam itu.

September 2011. Usiaku lima belas tahun, Fajar enam belas. Aku merasakan Fajar sudah paham memilah mana yang baik untuk dibicarakan mana yang tidak sejak Ia memilih untuk tidak lagi meledekku dengan “cucu nenek, kecup, kecup, kecup” seperti Patrick kalau sedang meledek Spongebob setiap kali aku tidak ikut main dengan teman-teman di hari Minggu, demi menjaga perasaan kawannya.

Tujuh tahun lalu, Saat usiaku baru lima belas tahun, Fajar enam belas. Nalarku mulai belajar bahwa tuhan juga memberikan makhluknya rejeki berupa kawan yang baik.

Hari ini, 7 Agustus 2018, Fajar dua puluh tiga tahun aku dua puluh dua. Dari 18429012 bantuanmu ini yang paling depan di barisan memoriku. masih kau ingat momen ini, jar?

Walaupun sudah lewat satu minggu, tapi, Selamat Ulang Tahun, Jar! Tadinya Aku berniat posting tulisan ini di Instagram tepat hari ulang tahunmu tapi karna rasanya terlalu cringe kalo dilihat banyak orang maka kuurungkan niatku, Haha. Jadilah setelah berhari-hari tertumpuk di dalam folder dokumen bersama draft tulisanku yang lain, kuputuskan untuk kuposting di blog pribadi karna pasti bahkan Kau sendiri pasti tidak baca-kalau tak kuberi tahu- apalagi orang lain.

Semoga segera kau jadi orang sukses, bandari kita semua makan di restoran macam Paciffic Place setiap minggu. Supaya jangan ke tempat Agung terus kalau kumpul, malu dengan Ibunya- makanannya kita yang habiskan. Kuberi kau satu saran supaya kolesterol tinggimu berkurang: jangan marah-marak kalau kita janjian dan kau datang paling duluan, salah kau sendiri, semacam baru kenal tiga minggu. Jangan bosan dulu kau kurepotkan, Belum dapat jodoh aku. Mhahahahaha




XOXO
ney







Sabtu, 09 Desember 2017

1 tahun 4 bulan 7 hari

aku tidak lelah menunggu, tidak lelah berharap
hanya terkadang aku bingsal tidak berada didekatmu
sebab kamu malu-malu -aku kadang terburu-buru
rasanya ku ingin tarik lengan bajumu
bertanya untuk siapa itu, tiap kau tulis sajak manis
aku tidak lelah menunggu, tidak lelah menduga-duga
hanya kadang aku bingsal tidak bisa menggenggam tanganmu
tapi memangnya, kalau dekat aku berani pegang tanganmu?


sekian
tidak panjang-panjang
sebab ditulis dikantor



Rabu, 08 November 2017

NAIVE

I want
live this life as a naive
see everything as a delightfull things
think possitively
to whatever we through or
whoever we met
feel happy to every simple things
even when hard thing comes as it
would break a whole I had, I
just remain that was a bad day
not a bad life
but life
never let me be
or simply, i never let me be
'cause i was.
and it left me an undescribable scar.

Sabtu, 20 Mei 2017

dialog dalam cermin





pada suatu pagi, aku sengaja memilih jalan memutar sebab-entah-kenapa, aku hanya ingin menyapa kawan lama yang dulu aku mengingatnya hanya setinggi pinggangku ketika pertama aku bertemu dengannya. sudah entah kapan aku terakhir melihatnya. kemudian teringat, dulu sekali saat tempatnya masih menjadi tanah kosong, aku dan nenek sering berjalan memutar sekedar menghabiskan waktu menunggu senja tenggelam. 

dulu, jalanan masih sepi, tempatnya juga masih serupa tanah kosong yang penuh dengan semak-semak.
sampai suatu hari, setelah sekian lama aku dan nenek kembali memilih jalan memutar, aku pertama kali melihatnya. tanah kosong bersemak itu sudah disulap menjadi tempat bangunan rapih dan dihiasi taman yang luas. disitu, aku pertamakali melihat tubuh rampingnya, berdiri didekat pagar yang kemudian melambai ramah kearahku. yang kemudian entah mengapa aku merasa semesta bukan tanpa alasan mengirimkannya untuk bertemu denganku.

sekarang sudah bertahun sejak saat itu, dulu aku masih sesekali lewat depan rumahnya sengaja hanya untuk melihatnya, disana ia selalu berdiri tepat di tempat pertama kali kami bertemu. bukan main, setiap aku melihatnya ia selalu lebih tinggi dari sebelelumnya, selalu semakin mempesona. namun sedikitpun dia tak congkak, masih selalu terlihat ramah dan ceria melambai lembut padaku. aku merasa malu sekarang sebab dulu sempat iri padanya. tapi dulu kita hanya anak-anak, begitu mudahnya perasaan iriku luntur oleh sebab senyum dan sapaannya.

hari ini, aku kembali ingin melihatnya, kakiku melangkah sedikit tidak sabar. aku yakin sekali tingginya sekarang sudah dua kali lipat tinggiku atau bahkan lebih. sudah terbayang betapa ia pasti sudah tumbuh jauh lebih mempesona. aku mempercepat lagkahku yang kemudian membawaku pada pagar tembok itu, benar apa perkiraanku! bahkan aku sekarang bisa melihatnya dari pagar samping. aku berlari kecil ke pagar depan rumahnya untuk melihatnya lebih jelas. senyumku melebar saat melihatnya dengan jelas, tapi aku merasa ia seperti tidak mengenaliku. yah.. memang aku 'agak' berubah dari sebelumnya.

tapi sepertinya memang ada yang berbeda dengannya, entah apa yang membuatku merasa ia tak memancarkan pesona seceria saat-saat kami masih belum mengenal malu. kemudian hari itu akulah yang menyapanya lebih dulu, meniru saat-saat dia melambai ramah kepadaku. untungnya ia masih mengenalku, aku memperhatikannya, padahal kini bunga-bunganya jauh lebih banyak dari dulu batangnya yang kokoh dan kuat menopang tubuhnya untuk terus bertumbuh tinggi. tapi tetap aku melihatnya tidak sama seperti yang ada di dalam imajiku. dia sekarang lebih seperti menyimpan malu, bersembunyi dibalik daun-daunnya sendiri.

kemudian setelah itu aku tau. dia bercerita, ia iri pada para Mawar, sebab warnanya yang cerah membuat para kupu-kupu selalu lebih tertarik dengan mereka. lalu ia iri pada para Melati sebab badan mereka mungil tapi mempunyai aroma harum yang kuat sehingga membuat para lebah tak urungnya jatuh cinta. juga pada lily sebab bunganya yang besar, tingginya yang tidak begitu menjulang dan batang mereka yang lembut membuat kumbang lebih memilih terbang didekat mereka. ia mengeluhkan batang kayunya yang keras yang tidak berhenti membuatnya tumbuh tinggi dan bunga-bunganya yang tak memiliki wangi. temanku, sang Kamboja , bersedih oleh sebab ia merasa tak semenarik bunga lainnya. 

aku merasakan kesedihannya, namun aku tak tahu harus menyampaikan apa, jadi aku hanya memberinya senyum dan memuji pesonanya sebagaimana aku merasa ia memang mempesona. kemudian aku berjalan pulang, aku mengambil jalan lurus melewati pagar depan rumahnya, samar-samar aku mendengar suara ribut yang datang dari sekelompok mawar. mereka meributkan betama mereka meresa iri pada temanku sebab mereka merasa angin pilih kasih kepadanya, hanya kepada Kamboja ia menghembuskan belaian lebih kencang karena Kamboja memiliki batang yang tinggi. juga tentang betapa mereka membenci diri mereka sebab memiliki duri dan ujung daun yang tajam.

aku mendengarkan gunjingan mereka, tapi aku memilih untuk tidak ikut campur. aku masih berjalan melewati pagar depan. kemudian aku tak jauh, mendengar Asoka sedang mengeluh, berharap mereka terlahir sebagai Teratai karena memiliki batang yang kuat walaupun hidup mengapung diatas air. mereka mengeluhkan batang-batang bunga mereka yang rapuh dan rontok ketika terkena tetesan hujan. aku memandangi Asoka yang kulihat tak berkurang kecantikannya walau beberapa bunga dari setiap gerombol-gerombolya ada yang rontok.

aku mulai tergelitik, ada yang harus diluruskan disini. semua bunga mengeluhkan bagaimana mereka merasa tidak lebih menarik dari bunga lainnya. sementara satu sama lain saling merasa iri karena merasa kekurangan.

 "aku harus menyampaikan ini pada Kamboja!" seru hatiku saat itu

kemudian aku berlari memutar arah kembali ke rumah Kamboja, yang tiba-tiba sebatang kaktus besar menyapaku. menanyaiku apa yang membuatku begitu terburu-buru. sebelum kuceritakan kuperhatikan  dia, daunnya yang tebal dan gundul, tak kulihat ada bunga satupun ditubuhnya. lalu dengan setengah sadar aku langsung menanyakan apakah ia tidak ingin menjadi bunga lain, yang setidaknya, lebih cantik. kemudian ia tertawa,

"untuk apa? agar para kupu-kupu dan lebah mendekatiku?" malah bertanya balik padaku

"aku tidak perlu memikat yang tidak tertarik padaku, aku cukup menunggu, aku yakin bungaku akan mekar pada saatnya dan saat itu akan ada kumbang yang datang padaku" jelasnya dengan yakin dan tenang

kemudian aku ceritakan tengtang bagaimana bunga-bunga saling merasa iri yang padahal mereka adalah masing-masing dengan pesonanya sendiri, dan tentang niatku untuk meyakinkan Kamboja, temanku, agar terlepas dari perasaan tidak memiliki pesona lagi. kemudian dengan mengejutkan Kaktus kembali tertawa, tapi yang lebih mengejutkan adalah ucapannya..

"memang kau pikir temanmu akan percaya?" tanyanya sarkas

aku menaikkan alisku heran 

"bukannya kalian manusia para wanita juga persis sama?"

sejak saat itu aku tidak pernah lagi bisa berbicara dengan temanku, serta bunga-bunga lainnya. mungkin saat ini, merekalah yang menjadi saksi betapa wanita mengeluhkan hal yang sama.

Senin, 01 Mei 2017

Catatan November Kemarin

oh, hai!

lama tidak menggerakkan jemari di kolom entri blog ini. sebelum tulisan ini, sebenarnya ada beberapa tulisan yang aku buat. tapi belakangan ini memutuskan mana tulisan yang harus di publis mana yang disimpan menjadi persoalan yang perlu dipertimbangkan rasanya. jadilah mereka hanya terismpan di barisan draft. tapi yang ini aku rasa tidak masalah, hanya akan ada beberapa cerita yang ingin aku ceritakan.

tulisan yang aku tulis terakhir adalah tentang bagaimana aku menghabiskan malam minggu yang sepi damai disebuah tempat makan bersama si hijau kesayanganku. pada akhir paragraf aku menuliskan harapan..

"semoga selanjutnya bukan dengan si hijau aku menghabiskan malam minggu...."

dan itu sungguh terjadi.
aku benar-benar tidak pernah lagi menghabiskan malam minggu dengan si hijau. bukan hanya malam minggu, malam senin, malam selasa, semua malam. bahkan siang haripun. Si hijau hilang.
hilang, benar-benar hilang secara harfiah. benar-benar singkat. takkan kuceritakan secara detail, buat apa mengungkit yang sudah hilang. aku berusaha ikhlas.

sempat terlintas pemikiran kekanakan:

bahkan si hijau pun malas menghabiskan malam minggu bersamaku, dan memilih pergi..

ya namanya juga orang berduka, yang tidak masuk akal saja kadang bisa dia percaya. aku hanya masih terluka. ah, padahal tadinya bukan ingin menulis tulisan cengeng begini.
yasudah, mungkin sudah selesai misi si hijau untung menolong dan menemaniku, mungkin dia pulang ke pelanetnya berkumpul dengan keluarganya. akan aku buat pemikiran seperti itu.

kemudian, setelah kepergian si hijau. banyak kerepotan-kerepotan yang harus aku hadapi sebab tidak ada partner yang memediai semua pekerjaan. pinjam sana pinjam sini. dari belum lagi kita harus sabar menunggu yang mau kita pinjami dengan sabar, menunggu pekerjaannya selesai dulu baru kita bisa pakai. yah.. namanya juga pinjam.

dari kejadian ini aku jadi punya pemikiran, mungkin kemarin aku kurang bersyukur. bukan kemarin-kemarin aku tidak senang punya si Hijau, hanya kadang terlintas ingin yang baru. perihal tidak bersyukur, manusia memang selalu seperti itu bukan? ah aku yakin aku bukan satu-satunya manusia yang merasa menyesal setelah kehilangan.

aku jadi teringat 4 skenario yang pernah kubaca di blog seseorang sebelum ini, ada 'sesuatu' yang ingin kubagi tentang skenario ini, sebab, sungguh, sudah kurasakan sendiri..


Skenario 1

andaikan kita sedang naik kereta ekonomi. kita tidak kebagian tempat duduk dan akhirnya kita berdiri di gerbong tersebut. suasana cukup ramai meskipun masih ada ruang untuk kita menggoyang-goyangkan kaki. kita tidak menyadari handphone kita terjatuh. ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya pada kita.
"pak, handphone bapak barusan jatuh", kata orang tersebut seraya mengembalikan handphone kepada kita. apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terimakasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2

handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihat dan memungutnya. orang itu tahu handphone itu milik kita tapi tidak langsung mengembalikannya.hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang. sesaat sebelum turun dari kereta, orang itu mengembalikan handphone kita sambil berkata, 
"pak, handphone bapak tadi jatuh", apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? mungkin kita akan mengucapkan terimakasih juga kepada orang tersebut. rasa terimakasih kita bisa jadi lebih besar daripada yang kita berikan kepada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone kepada kita). setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

pada skenario ini, kita tidak sadar handphonekita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak lagi ada di dalam kantong saat turun dari kereta. kitapun panik dan segera menelpon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita. orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak langsung mengembalikan handphone tersebut) menjawab telpon kita.
"halo, selamat siang pak. saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang", kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati memberikan handphone itu kembali kepada kita. orang yang menemukan handphone tadi berkata,
"oh, ini handphone bapak? oke nanti saya akan turun di stasiun berikut. biar bapak ambil disanan nanti ya.".
dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan kitapun pergi ke stasiun berikut dan menemui "orang baik"  tersebut. orang itupun mengembalikan handphone kita yang telah hilang. apa yang kita lakukan kepada orang tersebut? satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terimakasih dan sepertinya akan lebih besar daripada rasa terimakasih kita pada skenario dua, bukan? bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4

kali ini, kita tidak tersadar kalau handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari handphone kita telah hilang, kita mencoba menelpon tapi tidak ada yang mengangkat. sampai akhirnya kita tiba di rumah. malam harinya kita mencoba mengirimkan pesan,:
"Bapak/Ibu yang budiman, saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak/ibu sekarang. saya sangat mengharapkan kebaikan bapak/ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya."
pesanpun dikirim dan tidak ada balasan. kita sudah putus asa. kita mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di handphone itu. ada banyak kontak teman kita yang ikut hilang bersamanya. hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab pesan kita, dan mengajak bertemu untuk mengembalikan handphone kita. Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut? kita pasti akan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga daripada yang kita berikan di skenario tiga).


ada hal "aneh" disini. coba pikirkan, siapakah orang yang paling paling baik di antara empat skenario tersebut? tentunya yang menemukan dan langsung memberikan handphone kita, bukan? dia adalah orang pada skenario pertama. namun ironisnya, dialah yang menerima reward paling sedikit diantara empat orang di atas. sementara orang yang paling lama mengembalikan handphone itu kepada kita malah kita berikan reward paling besar. kenapa? sudah kubilang, perkara manusia..

"merasa memiliki, saat kita telah kehilangan"


rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario. pun pada skenario perihal perasan. ada kala kita mengabaikan yang kita miliki, merasa dia akan kembali lagi sebab seperti itulah 'seharusnya' menurut kita. kemudian dia menghilang dan sedikit lebih jauh, namun masih bisa kita gapai, kita belum melakukan apa-apa, lebih jauh, lebih jauh lagi hingga sebelum sempat kita sadari dia jarak sudah terlalu jauh memisahkan. beberapa orang, akan menyangkal bahwa ia merasa kehilangan. namun BUKAN berarti di tidak merasakannya. kehilagan, adalah masa yang berada tepat ketika kita mulai merasa terbiasa tanpa perasaan bersyukur. kehilangan selalu datang bersama keresahan dan harapan untuk mendapatkannya kembali, yang barulah mengajari kita artinya menghargai. sebab beberapa dari kita baru merasa memiliki, saat setelah kehilangan.



ditulis November 2016



catatan: baru dipublish setelah lama menjadi draft dan diedit ulang. tulisan yang sedikit cengeng tapi, hey, senang bisa kembali menulis.

- N :)

Sabtu, 22 Oktober 2016

Sekedar Bercerita

pertama-tama kalian harus tau ini ditulis di tempat publik sambil mendengarkan lagu Bimbang milik Melly Goeslaw. pada malam minggu yang sempat bingung harus dihabiskan dimana seusai meeting mengenai proyek baru yang akhirnya dipercayakan padaku. kemudian hanya aku, si hijau (begitu aku memanggil laptopku) yang aku sambungkan earphone ke telingaku, juga teh hijau yang aku pesan 20 menit yang lalu, hanya itu, karna donat gratis yang aku dapatkan dari event promosi sudah aku habiskan tepat setelah aku memilih tempat duduk. yang selanjutnya adalah pikiran-pikiran menyeruak dikepalaku. banyak. ada rindu juga disitu, ah, tapi  aku sedang malas membahas rindu. biar saja dulu lah. 

pelayan berlalu lalang, aku perhatikan satu dari tadi. kami hanya dibatasi dinding kaca, sedang asyik mengadon adonan roti. jarak kami tak sampai 10 meter. tapi kami ada di dua tempat yang sangat berbeda. dari tempatku duduk aku tak dapat mendengar apapun dari tempatnya. pun mungkin Ia. topi kokinya menjulang ke atas, celemeknya ada bekas noda di sudut-sudutnya, tangannya tak berhenti bergerak memutar, maju, mundur, sesekali Ia membanting adonan itu lalu mengulangnya seperti selama hidupnya ia hanya melakukan itu. aku penasaran, apa yang Ia pikirkan hingga begitu terlihat menikmati apa yang dilakukannya.

lalu terlintas dipikiranku; mungkin saja menjadi pengadon roti bukan cita-citanya.
mugkin saja. Ia masih muda, mungkin hanya 5-7 tahun diatas usiaku. belum sampai 30 sepertinya. mungkin saja dia lulusan Universitas Negeri jurusan teknik, tangannya cukup kekar, bukan tidak mungkin. atau bisa jadi ia lulusan jurusan hukum, fisip, atau mungkin ekonomi, kulitnya bersih, aku bisa membayangkan Ia memakai celana jeans dan kemeja, akan pas sekali di badannya.

"mba bisa dicabut dulu nggak?"

tanya seorang laki-laki tiba-tiba dari gerombolan yang duduk disebelahku, menunjuk ke arah charger laptopku.

"yah, ngga bisa mas, ini ngga ada baterai nya."

ucapku dengan nada seperti menyesal, padahal tidak. lalu laki-laki itu duduk kembali setelah meng-oh-kan jawabanku. sepertinya anak kuliahan, sedang berkumpul dengan teman-temannya. berisik sekali. aku dengar beberapa dari mereka berdebat mengenai aplikasi apa yang paling bagus untuk mengedit video. lalu mengenai teman mereka yang sedang liburan ke luar kota dan mendaki gunung-gunung, yang kemudian aku tak tertarik lagi mendengarkannya, mengingatkanku akan sesuatu.

lagu Melly goeslaw sudah lewat diganti beberapa lagu, sekarang lagu Cinta dan Rahasia yang dicover seseorang dengan versi Accoustic. mataku kembali lagi pada Sang pengadon Roti, sekarang Ia sedang mencetak adonannya membentuk bulatan-bulatan menyerupai donat.  3 loyang penuh sudah menumpuk di sebelahnya. aku nyaris terkesima. gesit sekali pekerjaannya.

masih, Ia bekerja di ruangan itu seperti sudah ditakdirkan untuk mendapatkan pekerjaan itu. sementara bisa saja, ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik (diusianya). Ia masih muda, tapi dipilihnya bekerja dibalik celemek dengan topi kokinya, sementara bisa saja ia pergi berkumpul dengan teman-temannya seperti yang dilakukan rombongan berisik yang ada di sebelahku.

kemudian aku teringat cerita yang tadi siang diceritakan senior dikantorku. usianya jauh diatasku sudah 34 atau 35 kalau tidak salah. sudah memiliki istri dan satu anak perempuan. Ia lulusan pertanian sama sepertiku. Ia pernah bekerja di satu perusahaan industri Internasional tingkat dunia, perusahaan dengan lambang satu induk burung dan dua anaknya disangkar. kalian carilah sendiri. kemudian entah karena alasan apa, tiba-tiba ia dipecat tepat sebulan sebelum pernikahannya. belakangan Ia baru mengetahui bahwa perusahaan itu memang tidak menerima lulusan dari Lampung. alasannya? masing-masing punya asumsi sendiri, pun kami berdua yang terlanjur memandang negatif karena kami adalah masyarakat Lampung. Seniorku bercerita betapa ia hampir gila saat itu. lalu dengan segala konspirasi semesta yang kadang tak sampai nalar manusia, kami dipertemukan di bidang yang jauh dari jurusan kami. hidup kadang selucu itu.

kemudian mataku kembali mencari Sang pengadon roti, aku memperhatikannya sedang memasukan loyang ke oven yang besarnya seperti lemari. sekarang aku memandangnya berbeda; mungkin memang, memang bukan menjadi pengadon roti cita-citanya. tapi tak sekalipun aku tak melihat ia tak menikmati pekerjaannya. kemudian aku melihat piring kosongku, donat yang aku makan tadi mungkin buatannya. lalu pandanganku meluas, aku melihat pengunjung lain duduk dan menikmati kudapan mereka. mereka menikmatinya. 

mungkin ketika kita dewasa, bukan lagi cita-cita yang berusaha kita capai, tapi kesempatan. dulu sekali, aku, mungkin kalian juga, pernah berpikir sukses adalah jalan yang mampu kita selesaikan dengan arah yang lurus. tapi kemudian seiring usia definisi sukses tidak se-imaji itu. segala sesuatu berusaha kita sederhanakan ketika kita mulai mengenal realita. melakukan apa yang kita cintai bukan hal yang sulit, tapi mencintai apa yang kita lakukan, butuh proses yang kadang diluar nalar manusia. biar saja, namanya juga manusia, nalar mereka berbatas. yang mengetahui kita adalah kita sendiri. betapa hidup selalu begitu lucu dengan berbagai kejutannya. apalagi yang bisa kita lakukan selain mencintai hidup kita sendiri. karena kesempatan hanya akan kita sadari keberadaannya ketika kita memiliki 'peraasaan cinta' pada apa yang kita jalani.

kudapati Sang pengadon roti sedang melipat celemeknya, sepertinya sift nya sudah selesai, lalu kuperhatikan lebih seksama Ia memakai kacamata. sungguh, siapa yang akan menyangka Ia seorang pengadon roti dengan penampilan seperti itu. lalu dari pintu samping Ia keluar dan melewatiku menuju pintu keluar. aku memperhatikan. Ia sesekali melihat jam ditanganya, mungkin sudah ada yang menunggu. Ia keluar menaiki motor matic yang tak lama kemudian ia gas pergi menghilang. 

pikiranku kembali meluas ke sekitar, kebanyakan keluarga atau orang-orang dewasa dengan penampilan rapih, ini tempat makan kelas menengah atas, tak heran isinya adalah orang-orang yang membayar mahal untuk secangkir kopi sekedar untuk berkumpul atau asyik dengan gadget mereka masing-masing. sungguh mana aku tahu pekerjaan mereka. tapi aku berani bertaruh. pasti tidak semua orang disini adalah orang-orang yang berhasil mencapai cita-cita mereka. namun mereka orang-orang yang telah mampu menangkap kesempatan-kesempatan dalam hidupnya karena mereka mencintai atau paling tidak berusaha mencintai apa yang mereka kerjakan.

9:13 malam, giliranku untuk pulang, 

"udah jam 9 mba, pulang"

kubaca pesan Watsapp yang dikirim ibuku. aku langsung bersiap-siap, aku belum mandi dari sejak pagi. lalu begitulah kuhabiskan malam mingguku bersama si hijau dan kursi kosong di hadapanku. besok-besok aku harap bukan dengan si hijau aku akan membahas berbagai macam konspirasi semesta pada malam minggu.